La petite Kepa, pulau kecil nan ciamik di barat Alor

DSC00854Maksud hati liburan kesini mau detox digital eh ternyata bts telkomsel berdiri dgn gagahnya di seberang pulau jd ttp bisa pantau timeline yg hari ini dihujami gambar2 liburan dr gambar di moda transport, makanan dan selpi2an jarang yg kasih cerita ttg apa yg didapat dari tempat yg dikunjunginya.
Skr gw nginap di la petite kepa yg dimiliki oleh cedric n anne lanchet pasangan suami istri asal perancis. Tempat ini bukan resort mewah hanya terdapat 10 bangunan sederhana dr material kayu dan bambu dgn arsitektur ala rumah tradisional alor yg mulai dibangun secara bertahap dari tahun 1999. Lokasinya yg berada pulau karang mengakibatkan tidak adanya keberadaan air tawar yg harus disupply dr pulau utama yg dampaknya para tamu harus menyadari utk pakai air tawar seperlunya saja dan selama disini tidak komplen dr para tamu yg mayoritas datang dari negara2 di eropa dan amerika yg memiliki standard higinitas tinggi.
Dari cerita yg diperoleh awal membangun tempat ini cedric n anne lanchet benar2 sampe berdarah-darah selain finansial jg medannya yg berat. Dan sejak 2010an mulai mapan didukung peralatan penunjang diving yg lengkap.
Cedric n Anne Lanchet sbnrnya sudah cukup mapan dgn pekerjaannya di prancis namun kecintaannya terhadap diving dan jiwa yg berani meninggalkan segala kenyamanan di prancis yg membawa mereka ke gersangnya pulau kepa namun dengan underwater yg luar biasa kayanya.
Namun tidak sekedar bisnis utk kepentingan mereka saja namun masyarakat disini mendapatkan cipratan roda ekonomi yg mereka berdua putar disini dan juga berbagi ilmu kepada masyarakat utk ttp menjaga lingkungan yg ada agar roda ekonomi yg sudah berputar disini tidak menjadi macet krn lingkungan yg hancur.

View on Path

2015 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 2,700 times in 2015. If it were a cable car, it would take about 45 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Maksud hati mau membuat review selama tahun 2015 tentang perjalanan yang menjadi tema blog ini, ternyata WordPress sudah memikirkannya. Hasil review bisa dilihat di link yang diberikan kalau penasaran apa aja isi blog ini di tahun 2015.

Sekedar mau menambahkan saja yang belum direview oleh WordPress tentang isi blog ini, secara pribadi tahun 2015 ada pencapaian perjalanan yang patut dibanggakan.

  1. Perjalanan ke Kinabalu, mencapai titik tertinggi yang pernah dipijak seumur hidup.
IMG-20150505-WA0004

Titik tertinggi yang bisa dicapai dengan latar dua puncak Low’s Peak dan St John’s Peak

Bersama 3 teman seperjalanan ini merupakan pendakian gunung di luar negeri bagi kita semua dan ini tidak hanya menjadi pendakian mencapai titik tertinggi yang pernah dipijak bagi kita semua tapi mungkin yang termewah. Dari kami berempat hanya satu orang yang mencapai Low’s Peak (4020mdpl) sebagai titik tertinggi di Kinabalu sedangkan sisanya hanya mencapai 3950 mdpl tapi tetap saja itu masih titik tertinggi yang pernah dipijak oleh ketiga orang yang tersisa.

2. Perjalanan ke Merauke dan Timika, menelusuri sungai hutan rawa bakau terpanjang dan terlama seumur hidup.

DSC00470

Menelusuri sungai-sungai besar di Timika dengan berbagai hal yang mengejutkan di dalamnya

Papua memang memiliki banyak daya tarik yang ditawarkan oleh alamnya yang eksotik walau untuk mencapainya bukan hal yang mudah. Memasuki aliran sungai yang selalu terbayang ikan-ikan monster seperti ditayangan liputan petualangan di Amazon sedang berenang di bawah perahu yang ditumpangi. Sempat mewanti-wanti untuk tidak terjebak dalam aliran sungai seperti ini sampai malam hari, namun yang sudah diwaspadai justru terjadi. Mengarungi sungai di malam hari dengan rimbunan hutan bakau yang dihuni buaya-buaya muara benar-benar memicu mengucurnya adrenalin dalam tubuh. Ternyata di kegelapan malam di hutan rawa bakau air sungai justru memberikan cahaya  yang memberikan pemandangan menakjubkan. Buih air yang terbentuk di jalur perahu mengeluarkan cahaya dan ini yang mampu mengalihkan pikiran menakutkan akan hutan rawan bakau yang rimbun itu.

2016 sudah siap memberikan hari-harinya untuk diisi dengan perjalanan yang baru, jadi siapkan rencananya dan kuraslah tabungan anda untuk membeli tiket murah sejak sekarang…Happy New Year 2016 para penjelajah, enjoy every inch of your journeyūüôā

#TheBorder: Timika, jalur negeri Paman Sam menguras harta Papua

Papua sebagai provinsi paling Timur wilayah Indonesia dikenal memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah. Pertama kali saya menginjak tanah Papua di tahun 2011 langsung menuju pegunungan tengah Papua kenyataan ini memang ada. Lahan pertanian subur terbentang disana tanpa ada sentuhan teknologi pertanian modern dan pupuk serta pestisida kimia hasil pertanian disana merupakan produk organik dengan ukuran di atas rata-rata hasil pertanian di Pulau Jawa. Metode bertani secara organik yang belum terkontaminasi material kimia justru menghasilkan produk berkualitas.

Tidak hanya di daratan namun lautan Papua pun tidak kalah kaya. Bagi penggemar pemandangan bawah laut, siapa yang saat ini tidak kenal  Raja Ampat? Kepulauan yang berada di kepala burung pulau Papua saat ini menjadi primadona para traveler khususnya penggemar snorkeling dan diving. Sebenarnya masih ada beberapa spot underwater yang belum terjamah dikarenakan sulitnya akses kesana. Di tulisan blog ini sebelumnya yang bisa dibaca disini memang tidak selalu menjanjikan laut yang bening, di pesisir selatan hingga barat daya Papua pesisir yang memiliki air yang teramat keruh oleh lumpur hasil sedimentasi dari sungai-sungai yang bermuara ke sana yang membawa material dari Pegunungan Tengah Papua yang menjadi hulunya.

Kabupaten Mimika yang beribu kota di Timika menjadi salah satu wilayah yang menjadi aliran sungai-sungai dari pegunungan tengah Papua. Aliran air di salah satu sungainya yaitu sungai Aijkwa menjadi saluran pembuangan ampas-ampas hasil tambang oleh perusahaan tambang asal Amerika Serikat yaitu Freeport. Entah sudah berapa banyak endapan beracun yang memenuhi pesisir Mimika yang berisi hutan rawan bakau dengan berbagai macam mahkluk hidup di dalamnya sudah membangun rantai makanan, bukan tidak mungkin mereka pun sudah terpapar material beracun.

Menjelajahi sungai-sungai selebar selat menjadi hal yang biasa ketika menelusuri pesisir Selatan dan Barat Daya Papua. Dalam perjalanan untuk menginvetarisasi patok batas laut Indonesia di Pulau Papua sudah berbagai sungai besar yang dilalui, jalur sungai memang dipilih untuk menghindari jalur laut yang tidak menentu keadaannya. Selain gelombang yang laut kondisi pasang surut sering menghambat perjalanan perahu. Untuk di Kabupaten Mimika sendiri terdapat dua lokasi yang akan dikunjungi yaitu di distrik Amar dan distrik Mimika Timur.

Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Pomako yang menjadi pintu masuk untuk kapal-kapal besar yang membawa logistik untuk kebutuhan kota Timika dan pedalaman yang akan didistribusikan tidak hanya lewat jalur air namun lewat jalur udara dengan pesawat perintis yang tersedia di Bandara Mozes Kiliangin. Tidak jauh dari pelabuhan Pomako terdapat Pelabuhan Port Site yang dikhususkan untuk melayani logistik Freeport. Jika dibandingkan dengan Pelabuhan Pomako, pelabuhan Port Site memang jauh lebih baik dengan standard pelabuhan besar yang mungkin diterapkan di Amerika Serikat. Sedangkan Pelabuhan Pomako hanyalah pelabuhan perintis Pelni seperti pelabuhan perintis lainnya yang ada di berbagai tempat di Indonesia.

Menuju ke dua titik tersebut jalur sungai menjadi pilihan mengingat perahu yang digunakan hanyalah perahu dengan mesin 15 Pk bukanlah tandingan sepadan untuk melewati gelombang besar di laut. Menyusuri sungai raksasa disana dengan mesin seperti itu memang lebih nyaman walaupun lamban. Memotong alur-alur sungai seperti labirin menjadi hal yang mudah bagi orang lokal sebagai motoris yang memegang kendali perahu. Jika kami sendiri yang melakukan dijamin akan nyasar sekalipun menggunakan GPS. Belum lagi hambatan seperti dasar sungai yang dangkal mengakibatkan perahu kandas bisa menghambat perjalanan.

Kekayaan sumber daya alam berupa material tambang yang digali Freeport tidak bisa dinikmati oleh orang-orang yang ada wilayah Timika namun sungai raksasa yang bermuara ke laut lepas menyimpan harta yang bisa dinikmati siapa saja. Ikan-ikan air tawar ukuran monster, kepiting yang disana dikenal sebagai Karaka, kerang yang dikenal dengan nama Bia menjadi menu seafood yang luar biasa dimana jika bahan mentah tersebut sampai di Jakarta akan sulit dikonsumsi karena harganya dijamin bikin kantong bolong disini bisa didapat gratis dengan sedikit usaha. Jika ingin praktis bisa dibeli dengan harga jauh lebih murah dibanding harga Jakarta atau jika bertemu nelayan ditengah laut atau beristirahat di pantai bisa dibarter. Rokok, sirih pinang, mie instant bisa menjadi mata uang untuk membarter seafood tersebut.

Keindahan hutan rawa di Sungai-sungai yang ada di Timika memang menyegarkan mata namun dibaliknya kekuatan alam didalamnya siap menerkam yang berkunjung disana. Pastikan sebelum kesana buat rencana perjalanan yang matang dengan mengutamakan keselamatan di atas segalanya.

DSC00447

Pelabuhan Pomako, tempat mencari perahu yang digunakan untuk menelusuri sungai-sungai di Timika

DSC00470

Sungai raksasa yang dipecah oleh delta-delta yang rimbun membentuk labirin hutan rawa

100_1920

Di kejauhan berbagai burung laut berkumpul di muara sungai yang sedang surut

100_1918

Hutan bakau yang tumbuh subur menjadi rumah berbagai menu makanan lokal yang segar dan bergizi tinggi

Bia atau kerang menu andalan yang paling mudah diolah

Bia atau kerang menu andalan yang paling mudah diolah

Pasar ikan di Pelabuhan Pomako menyediakan hasil alam sungai di Timika

Pasar ikan di Pelabuhan Pomako menyediakan hasil alam sungai di Timika

 

#TheBorder: Lautan Papua tidak selalu yang dibayangkan

Membayangkan lautan Papua apakah yang pertama kali muncul di benak orang-orang khususnya pecinta traveling? Mungkin jika dilakukan polling bisa jadi banyak yang menyebutkan laut yang jernih bak kaca, dihuni oleh terumbu karang warna-warni yang cantik dan ikan-ikan karang yang ramai lalu lalang seperti yang terwakilkan oleh laut yang ada di sekitar Raja Ampat.

Hal itu pun juga sempat muncul di pikiran saya, namun setelah melihat citra satelit daerah pesisir Selatan Papua pikiran saya berubah.Seluruh pesisir dipenuhi oleh sedimentasi lumpur yang luas dari pantai hingga beberapa ratus meter di tengah laut memupuskan harapan untuk bisa bersnorkeling ria walau masih berharap ada sepotong pantai yang memiliki air jernih dengan terumbu karang cantik.

Pasang surut muka air laut menjadi problem untuk menjelajahi pesisir selatan Papua, pemilihan waktu untuk melakukan perjalanan menjadi tricky supaya perahu tidak kandas saat dijalankan bahkan perahu bisa terjebak jika surut sampai tersisa pasir saja.

Saat surut permukaan air laut bisa beratus meter dari pantai

Saat surut permukaan air laut bisa beratus meter dari pantai

20150906_153838

Perahu bisa terjebak pada saat surut

Menjelajahi laut pesisir Selatan Papua bisa dimulai dari beberapa lokasi di kota Merauke, saya menggunakan pelabuhan yang orang lokal sebut pelabuhan Lampu Satu tempat dimana perahu yang disewa ditambatkan disana. Pemilihan sewa perahu akan mempengaruhi juga motoris yang akan membawa perahu tersebut. Kebetulan saya mendapat referensi penyewaan perahu dari seorang anggota TNI AL yang mengenal awak perahu yang mampu dan mengerti jalur Merauke hingga ke ujung Pulau Yos Sudarso. Memang terbukti kehandalan motoris dari penyewaan perahu tersebut, dengan perahu berkuatan 2×40 PK sang motoris mengemudikan perahu dengan kecepatan tinggi dengan skill tinggi mampu menghindari tonggak-tonggak kayu yang banyak dipasang masyarakat untuk menangkap ikan dan juga bermain diantara gelombang yang menghantam menuju daratan.

Perjalanan di laut pesisir Selatan Papua mungkin menjadi kurang menarik bagi pecinta laut dikarenakan air laut yang keruh disebabkan lautnya yang dangkal serta berlumpur. Peralatan snorkeling yang sudah dibawa akhirnya sia-sia, harapan menemukan air laut yang jernih dengan terumbu karang dibawahnya tidak ditemukan sepanjang perjalanan. Tapi bagi pecandu kegiatan yang memacu adrenalin menggunakan perahu berkapasitas mesin besar dan motoris yang berjiwa pembalap jalur perjalanan pesisir Selatan Papua akan memuaskan jiwa.

Objek yang bisa dikatakan menarik di sepanjang jalur Merauke hingga Pulau Yos Sudarso terdapat Pulau Habee dimana terdapat menara suar yang bisa dinaiki untuk melihat laut dari ketinggian dan juga hutan rawa bakau yang kaya akan hasil alam selebihnya hanyalah air laut berlumpur dengan gelombang yang tidak bisa diprediksi munculnya.

Perahu berkemampuan 2×40 Pk yang dikemudikan motoris dengan skill mumpuni bisa mencapai Pulau Habee dalam waktu 3 jam. Pulau Habee menjadi salah satu lokasi patok batas laut Republik Indonesia. Pulau tak berpenghuni ini direncanakan akan dikembangkan menjadi objek wisata di Kabupaten Merauke. Pulau Habee memang tidak menawarkan pemandangan bawah laut yang ciamik namun keheningan suasana pulau yang cukup jauh dari daratan utama dan lalu lalang burung laut bisa menjadi daya tarik untuk berkunjung ke Pulau Habee.

Perahu dengan kapasitas mesin besar memberikan sensasi memicu adrenalin

Perahu dengan kapasitas mesin besar memberikan sensasi memicu adrenalin

DSC00227

Pemandangan dari Menarasuar Pulau Habee

Laut yang bergejolak oleh gelombangnya dan perahu berkecepatan tinggi dengan motoris ugal-ugal lama kelamaan menguras habis adrenalin dan berdampak pada sekujur tubuh yang remuk redam terhempas di dalam perahu, pilihan memotong jalur sungai yang tenang melintas hutan rawa bakau menjadi keputusan yang tepat. Permukaan air sungai yang teduh dan kanopi pohon dari hutan rawa bakau sedikit menahan terpaan sinar matahari yang terik. Hutan rawa bakau mendominasi lahan di pesisir selatan Papua mulai dari Merauke hingga pulau Yos Sudarso, Hutan rawa bakau yang ada begitu rimbun dengan pohon bakau yang tinggi besar layaknya hutan primer pada umumnya berbeda sekali dengan hutan rawa bakau di pesisir Jawa hingga Bali yang terlihat sengsara dibabat orang-orang yang haus kebutuhan ekonomi.

Tak hanya hutannya yang masih rimbun namun para penghuninya masih banyak menikmati tinggal di ekosistem yang ada, mulai dari yang tinggal di air seperti ikan-ikan bisa tumbuh hingga besar dengan dominasi ikan duri/sembilang, kakap putih maupun belanak menjadi andalan tangkapan nelayan disana. Aneka burung-burung laut seperti pelikan, dara laut, elang dan beberapa jenis yang tidak saya ketahui namanya menjadikan hutan rawa bakau tersebut menjadi komplek hunian yang menyenangkan bagi mereka. Rusa sebagai ikon dari Merauke tidak jarang juga menjadikan hutan rawa bakau yang ada menjadi jalur perlintasan mereka.

Memasuki jalur sungai dengan permukaan air yang tenang

Memasuki jalur sungai dengan permukaan air yang tenang

Memasuki jalur hutan rawa bakau

Memasuki jalur hutan rawa bakau

DSC00413

Hasil tangkapan yang diperoleh dari hutan rawa bakau

Dalam perjalanan ini beberapa lokasi yang menjadi persinggahan untuk beristirahat mampu memberikan kenyamanan. Bukan kenyamanan dalam fasilitas hotel maupun restoran tapi keheningan pantai dengan semburan merah matahari yang tenggelam, keramahan masyarakat lokal menyediakan rumahnya untuk dipakai menginap dan suguhan makanan lokal hasil dari alam yang ada serta pantai berpasir putih dengan langit cerah memberikan tempat untuk tidur dengan fasilitas bintang seribu yang memberikan kenyamanan yang sulit dinikmati di Ibukota Jakarta tercinta ini.

DSC00283

Heningnya pantai di desa Yowi menjelang senja

20150909_173530

Menyambut pagi di pantai Distrik Wan setelah melewati tidur malam beratapkan beribu bintang di langit

Masyarakat lokal di distrik Boraka menyisihkan ruang tidurnya dan menyiapkan makanan untuk tamunya

Masyarakat lokal di distrik Boraka menyisihkan ruang tidurnya dan menyiapkan makanan untuk tamunya

#TheBorder: Akhirnya tercapai dari ujung Barat hingga ujung Timur Indonesia

Dari sabang sampai merauke

Berjajar pulau-pulau

Sambung memnyambung menjadi satu

Itulah Indonesia

Indonesia tanah airku

Aku berjanji padamu

Menjunjung tanah airku

Tanah airku Indonesia

Lagu nasional karya R.Suharjo memang sudah dikenal sejak kecil dimana lagu ini diajarkan bagi anak-anak sejak Sekolah Dasar. Lagu yang mengenalkan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang berjajar dari Sabang hingga Merauke sebagai batas paling Barat dan paling Timur. Lagu ini juga menjadi inspirasi bagi saya untuk menjelajahi tiap wilayah negeri.

Indonesia memiliki 4 titik yang menjadi pedoman batas paling ujung dari 4 penjuru mata angin. Miangas menjadi titik paling Utara yang justru pertama kali saya singgahi pada tahun 2012, Sabang (Pulau Weh) sebagai titik paling Barat di Indonesia sudah saya singgahi pada tahun 2013. Dan di tahun 2015 tercapai juga untuk mengunjungi Merauke sebagai ujung paling Timur Indonesia sekaligus mewujudkan lirik lagu karya R.Suharjo.

Merauke sebagai Kabupaten di Provinsi Papua sejak dahulu sudah dikembangkan menjadi lumbung pangan untuk Indonesia Timur khususnya di Papua. Wilayah datar yang didominasi daerah rawa memang dikembangkan untuk wilayah pertanian. Gelombang transmigran dari Jawa sejak jaman Presiden Suharto telah banyak membuka lahan sawah dan lahan penggembalaan ternak di bumi suku Marin ini.

Berkunjung ke Merauke menjadi kurang lengkap jika belum mengunjungi patok batas yang berada di Sota. Patok yang ada di Sota merupakan titik lintang timur 141 derajat atau ujung paling Timur wilayah Indonesia. Di lokasi ini terdapat patok perbatasan hasil survey tim Indonesia dan tim Australia yang menjadi wakil dari Papua Nugini.  Lengkap sudah berdiri di Kilometer 0 Sabang di Pulau Weh dan sekarang berdiri di Patok Batas Lintang Timur 141 derajat di Sota Merauke Papua. Di sekitar lokasi patok tersebut terdapat beberapa Musamus atau sarang semut yang besar merupakan salah satu ikon yang dimiliki oleh Merauke.

Namun itu bukan akhir penjelajahan di Merauke, masih ada lokasi yang menantang di tempat ini.

Gerbang Perbatasan

Gerbang Perbatasan

Patok perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini

Patok perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini

Musamus salah satu ikon yang ada di Merauke

Musamus salah satu ikon yang ada di Merauke

Perbatasan Indonesia dan Papua Nugini di Kabupaten Merauke memiliki wilayah konservasi yang secara resmi ditetapkan sebagai Taman Nasional Wasur. Taman Nasional Wasur memiliki variasi ekosistem dari padang savannah yang berisi satwa seperti Rusa, Kangguru, Sapi Liar hingga hutan rawa bakau yang berisi buaya, burung-burung rawa, maupun berbagai jenis ikan konsumsi seperti Kakap, Belanak maupun kepiting bakau yang disana dikenal dengan nama Karaka. Bagi pecinta off road jalur di Taman Nasional Wasur cukup mumpuni untuk menguji kendaraan berpenggerak 4 roda. Saya pun berkesempatan mencoba menjelajah Taman Nasional menggunakan kendaraan 4wheel untuk menuju lokasi survey perbatasan. Jalur yang dilalui sebenarnya merupakan bagian dari  lahan basah atau Wet Land yang banyak mendominasi kawasan Taman Nasional Wasur namun berhubung musim kemarau yang berkepanjangan maka jalur yang dilalui cukup kering dan mudah dilalui dengan Toyota Hilux sebagai kendaraan 4wheel yang digunakan. Melewati padang savana yang luas dengan rumput setinggi orang dewasa menjadi habitat untuk rusa dan kangguru yang merupakan hewan ikonik dari Merauke. Memang saya tidak melihat kedua hewan ini pada siang hari, namun di malam hari sempat melintas di depan mobil seekor kangguru dan itu momen pertama bisa melihat kangguru di habitat aslinya tapi momen itu tidak bisa terekam kamera dikarenakan cepatnya kangguru itu melompat. Melalui jalur lahan basah di Taman Nasional Wasur di musim kemarau tidak berarti semua jalur kering, terdapat lokasi yang masih tergenang air dan ini menjadi ancaman bagi kendaraan yang melaluinya. Bagi kendaraan offroad yang mempersiapkan kendaraannya dengan peralatan jika terjebak lumpur mungkin bukan halangan berarti namun bagi yang merasa percaya diri melalui jebakan lumpur tersebut berharap saja akan ada orang yang bisa membantu jika pada akhirnya kendaraannya terjebak.

Jalur lahan basah yang kering di musim kemarau

Jalur lahan basah yang kering di musim kemarau

Padang savana habitat rusa dan kangguru

Padang savana habitat rusa dan kangguru

Mobil akhirnya terjebak lumpur juga

Mobil akhirnya terjebak lumpur juga

Penjelajahan di Merauke tidak hanya daratannya saja, namun perairannya seperti sungai, rawa, dan lautnya memberi cerita tersendiri…continue

The Last Summit Attack: Kinabalu

Setelah sekian lama tidak melakukan perjalanan monumental yang mampu memberikan pengalaman yang terekam abadi sejak tahun 2014 akhirnya pertengahan 2015 datanglah kesempatan untuk melakukannya lagi. Bersama 3 orang teman yang 2 orang diantaranya baru bertatap muka di Kota Kinabalu dimana tempat kami akan memulai perjalanan.

Sejak mulai rencana perjalanan ini saya sudah menggadang-gadang tempat ini dengan #roadto4095 mdpl sebagai tempat tertinggi yang pernah dipijak. Pendakian Gunung Kinabalu memang berbeda dengan pendakian gunung di Indonesia, walaupun Gunung Kinabalu merupakan gunung tertinggi dibanding gunung-gunung lain yang pernah didaki namun persiapan pendakian kali ini adalah yang paling minim. Ya, ini berkat manajemen wisata Gunung Kinabalu yang rapi dan ketat menyebabkan para pendaki melupakan masalah manajemen perjalanan pendakian semua sudah diatur baik mulai dari logistik, akomodasi dan guide. Ujung-ujungnya untuk mendaki disini menjadi pendakian termahal yang pernah saya lakukan. Namun untuk berpetualang di alam bebas sebanyak apapun uang yang dimiliki, persiapan fisik juga dibutuhkan untuk memberikan kenyamanan tersendiri.

Memasuki gerbang pendakian pemandangan yang tidak biasa terlihat disana. Untuk ukuran pendakian dengan tinggi gunung melebihi ketinggian gunung-gunung di Indonesia tidak termasuk yang di Papua, saya berpikir pendaki yang ada akan didominasi pendaki muda yang secara fisik mampu melibas tanjakan-tanjakan kejam. Ternyata pendaki yang ada terlihat  orang-orang berumur di atas 40 tahun baik laki-laki maupun perempuan dari berbagai negara. Jika keadaan ini menunjukkan sebagai gambaran kualitas kesehatan penduduk, tampaknya negara Jepang, Eropa bahkan Malaysia memiliki kualitas kesehatan yang bagus dimana orang-orang sudah berumur pun masih sanggup untuk melakukan aktivitas fisik yang ekstrem.

WP_20150504_006

Timpohon Gate, pintu masuk sebelum memulai pendakian

Jalur pendakian Gunung Kinabalu cukup jelas bahkan untuk orang awam sekalipun namun kewajiban para pendaki harus didampingi oleh guide yang justru menambah mahalnya pendakian disini. Jalur pendakian yang didominasi tangga baik tangga yang terbuat dari kayu maupun tangga berupa undakan yang sudah dibuat sedemikian rupa untuk mudah ditapaki. Namun jalur seperti ini bisa menjadi masalah bagi kaki terutama pada saat turun. Bisa dikatakan siapkan saja uang yang banyak dan fisik yang bagus  maka anda tidak perlu khawatir untuk nyasar atau kehabisan logistik. Sejak memulai perjalanan dari Timpohon Gate di 1800an mdpl hingga ke Laban Rata di 3272 mdpl sebagai perhentian sementara sebelum menuju puncak, tanjakan tak akan kasih ampun kaki-kaki yang melewatinya. Laban Rata yang memiliki ketinggian setara puncak Pangrango menyediakan beberapa bangunan untuk ditinggali dengan fasilitas makanan buffet berkualitas dan kasur yang dilengkapi selimut baik dengan heater maupun tidak menjadi fasilitas mewah dalam pendakian ini.

Tangga-tangga yang memudahkan untuk melangkah

Tangga-tangga yang memudahkan untuk melangkah

Jalur yang ada menuju Laban Rata sudah “dikemas” untuk mudah ditapaki, dibanding dengan gunung-gunung di Indonesia bisa dikatakan jalur di Kinabalu sudah memanjakan pendaki yang melaluinya. Namun gunung tetaplah gunung jalur menuju ke atas tetaplah ke atas, tanpa persiapan fisik yang baik pada akhirnya akan menyiksa anda habis-habisan. Kondisi fisik ketika tiba di Laban Rata benar-benar drop ditambah terguyur hujan selama beberapa jam, tapi ini belum akhir dari perjalanan. Suguhan buffet di Laban Rata berprotein tinggi mulai dari olahan daging kambing, sapi dan ayam yang mampu merecovery kondisi mulai meningkatkan mood untuk menggapai puncak dini hari nanti.

Laban Rata, pemberhentian sebelum puncak (travellie.com)

 Summit Attack!!! sebenarnya ini momok bagi saya buat menuju puncak suatu gunung, biasanya dilakukan dini hari disaat suhu udara berada di titik terendah ditambah dengan angin yang berhembus kencang dan tidur yang kurang nyaman karena berhimpitan di tenda bersama teman pendakian dan juga barang lainnya. Namun summit attack kali ini terasa lain, bangun tidur cukup nyaman dari kasur dengan menggunakan selimut menyiapkan minuman panas cukup menuangkan saja dari dispenser sebenarnya bukan menjadi alasan untuk tidak bertenaga dalam memulai tanjakan dini hari itu.

Tapi bayangan ideal itu dibantahkan kembali oleh tanjakan-tanjakan setelah Laban Ratan menuju puncak, tidak sampai 1 jam berjalan fisik langsung drop dengan cepat. Bagi saya sebenarnya jalur Summit Attack di Gunung Kinabalu tidak sesusah dibanding gunung Semeru atau gunung Rinjani, kembali saya memaki diri sendiri yang kurang latihan fisik dan menganggap remeh pendakian ini. Target puncak yang dituju adalah Low’s Peak di ketinggian 4095 mdpl, namun apa daya titik 3915 mdpl yang ditampilkan GPS adalah titik tertinggi yang bisa digapai. Peraturan pendakian yang membebankan para pendaki ikut mendukung untuk tidak mencapai Low’s Peak, yang memutuskan saya untuk berhenti melanjutkan menuju puncak dan inilah titik tertinggi di bumi yang pernah dipijak sepanjang hidup saya sampai saat ini. Di titik ini sebenarnya dikelilingi beberapa
puncak selain Low’s Peak seperti South’s Peak, St John’s Peak, dan Donkey’s Peak.

Hanya bisa sampai disini :(

Hanya bisa sampai disiniūüė¶

WP_20150505_014

South’s Peak

Titik tertinggi yang bisa dicapai dengan latar dua puncak Low's Peak dan St John's Peak

Titik tertinggi yang bisa dicapai dengan latar dua puncak Low’s Peak dan St John’s Peak

Pendakian belum lah berakhir sampai bisa kembali ke pintu entrance dengan selamat, masih butuh waktu dan kondisi fisik yang mumpuni dalam perjalanan turun. Dampak summit attack dini hari ditambah perjalanan menanjak di hari pertama ternyata berakumulasi negatif terhadap kondisi fisik. Lutut kiri yang sebelumnya sudah pernah terkena cedera akhirnya kambuh lagi di 4 kilometer terakhir menuju pintu entrance. 4 kilometer turun menuju pintu entrance jika kondisi sehat sebenarnya cukup nyaman untuk dilalui terasa menyiksa tapi ini pelajaran dari setiap pendakian gunung dan hanya kesabaran serta kepasrahan yang tetap perlu dijaga untuk melaluinya.

Dalam pendakian gunung proses perjalanan akan selalu memberi pelajaran dan menggapai puncak menjadi bonus pencapaian yang patut dibanggakan. Tiap orang yang mendaki gunung akan bisa mengenal lagi dirinya lebih dalam, dari perjalanan ini saya makin mengenal kondisi fisik diri sendiri yang tidak kompetitif lagi menggapai puncak jika ikut pendakian lagi cukuplah menikmati perjalanannya saja oleh karena itu maka dengan ini saya nyatakan bahwa KINABALU: My Last Summit Attack!!!

#3726mdpl, jika niat manusia direstui Sang Khalik semesta akan mendukung

2013-09-28 09.14.50

Puncak Rinjani dari plawangan Sembalun

Ketika membuat tulisan ini minggu lalu saya sedang berada di Plawangan Sembalun menanti  waktu dini hari untuk berangkat menuju titik 3726 mdpl. Menanti di dalam tenda bersama 3 orang teman berlindung dari terpaan hawa dingin dimana memaksakan diri untuk sekedar memejamkan mata. Di saat itu pikiran dipenuhi banyak khayalan yang mencoba memacu diri untuk mencapai 3726 mdpl yang berjarak 1000 m vertikal dari titik tenda ini berdiri. Salah satu khayalan yang sempat terlintas adalah sebuah TV komersial dari produk apparel Amerika yang dibintangi Michael Jordan. Iklan itu muncul pada saat Michael Jordan kembali dari pengunduran diri dari liga basket Amerika dan dianggap kemampuan sudah habis. Namun dalam iklan itu Michael Jordan meyakinkan dirinya bahwa dia masih mampu terbang tinggi, masih mampu bergerak dengan cepat, dan mampu bersaing dengan yang lebih muda. Dalam kenyataan yang ada Michael Jordan masih mampu meraih 3 gelar juara dalam liga tersebut.

Hasil khayalan tentang MIchael Jordan berhasil memicu diri untuk meyakini kemampuan yang ada saat ini…ya, saat ini saya bukanlah 4 tahun lalu ketika pertama kali mencoba menapaki gunung Rinjani dengan kondisi dan persiapan fisik yang mumpuni atau bahkan 10 tahun lalu ketika latihan fisik sudah menjadi aktifitas keseharian. Namun saat ini yang saya punya pengalaman yang cukup untuk meyakini bahwa saya sanggup mencapai titik tertinggi gunung Rinjani dan mencoba meyakini diri akan membawa teman-teman seperjalanan untuk sampai titik tersebut.

Minggu 29 September 2013 pukul 03.30, Memulai untuk melangkah menuju puncak Rinjani bukanlah perkara yang mudah. Kondisi sekitar masih gelap gulita dan terpaan hawa dingin ditambah badan yang masih kaku karena meringkuk di dalam tenda sudah menjadi tantangan tersendiri. Namun beruntungnya angin tidak bertiup sekencang malam sebelumnya yang menyebabkan kami menunda pendakian menuju ke puncak selama 1 hari. Memulai dinihari dengan berjalan menanjak bukanlah suatu hal yang menyenangkan namun tekad yang membara dan celotehan diantara kami memanaskan sendi dan otot yang kaku. Dari antara kami hanya satu orang masih berusia kepala dua sisanya sudah berusia kepala tiga bahkan berkepala empat dimana secara fisik dianggap tidak terlalu mumpuni untuk menghadapi kondisi alam yang ada. Dari beberapa teman saya di saat kuliah merupakan pendaki gunung yang tangguh saat ini sudah merasa terlalu jompo untuk mendaki gunung lagi selalu perut mulai membuncah seperti layaknya bentuk gunung yang pernah mereka daki, berbagai penyakit mulai menggerogoti mereka karena kehidupan mereka saat ini terlalu nyaman di balik meja.

100_1468

Menapaki jalan menuju puncak Rinjani di dini hari

Matahari mulai memerahkan langit di sekitar kami saat itu dimana titik kami berdiri saat itu sudah berada di 3000 mdpl, bagi dua orang teman kami ini telah mencapai titik tertinggi selama hidup mereka yang pernah dipijak dan rekor itu pasti masih bisa dipecahkan karena mereka masih sanggup melanjutkan perjalanan. Mengisi kembali energi yang terkuras dengan mie instant hangat dan kopi susu panas lebih dari cukup untuk kondisi saat itu dimana perut dari awal berangkat hanya diisi sebutir telur dan teh manis. Semburan cahaya pagi membuka tirai-tirai kegelapan yang menutupi danau segara anak yang ada di bawah punggung gunung tempat kami berdiri dan juga menerangi padang-padang rumput yang luas bekas terbakar dan juga bukit-bukit yang mengesalkan saking terjalnya pada saat awal memulai pendakian dari jalur sembalun. Pagi yang sangat monumental terutama bagi yang pertama kali berdiri di titik itu karena 4 tahun lalu ketika pertama kali mendaki rinjani kami hanya bisa sampai di plawangan Sembalun dikarenakan anak gunung Rinjani yaitu gunung Baru Jari sedang aktif sehingga pendakian menuju puncak di tutup.

IMG_9394

Danau Segara Anak yang terlihat di pagihari

Perjalanan tidaklah berakhir di ketinggian 3000 mdpl karena masih ada elevasi sebanyak 726 m vertikal yang perlu dijalani untuk mencapai puncak Rinjani dan itu bukanlah perkara mudah. Selain masalah persediaan air yang mulai menipis kondisi fisik sudah mulai menurun dan matahari makin meninggi menyebabkan salah satu dari kami menyerah di ketinggian 3400 mdpl. Di saat seperti seorang manusia diuji tentang ego dan kemampuan dirinya apakah tetap melanjutkan perjalanan menuju puncak melayani egonya walau sudah kehabisan tenaga atau berhenti melanjutkan perjalanan menuju puncak. Akhirnya tinggal kami bertiga yang melanjutkan perjalanan menuju puncak. Udara cukup cerah, langit bersih dari awan, semua terlihat jelas saat itu, Sang Pencipta langit dan bumi sudah memberikan tanda bahwa kami diperkenankan untuk menaiki puncak Rinjani. Tak ada yang menghalangi kami saat itu kecuali mental kami yang sedikit demi sedikit drop mengikuti menurunnya kondisi fisik. Tak mau melewatkan momen yang baik itu kami bertiga mencoba melawan rasa lelah yang ada di dalam diri masing-masing dan teori musuh terbesar dalam hidup adalah diri sendiri benar-benar terjadi saat itu. Namun hanya jiwa yang ingin menikmati kebesaran karya luarbiasa dari Sang Pencipta yang mampu mengangkat kaki-kaki letih ini menuju Puncak Rinjani menuju titik 3726 mdpl membawa kami ke titik dimana kami adalah orang yang pernah merasakan bagaimana indahnya sekeliling alam Pulau Lombok dari titik tertingginya. Mungkin tidak ada kata yang tepat saat berada di momen itu namun semua ucap syukur yang dipanjatkan akan menjadi bagian rasa hormat kami terhadap alam semesta ini bahwa manusia hanyalah kecil di hadapanNya. Terima kasih #3726mdpl atas momen yang mengajarkan kami tentang kehidupan ini.

IMG_9422

Memandang dari puncak Rinjani

Protected: #travelermemory: Pulau Budd, Rajaampat

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Ijen: Jangan mengeluh soal pekerjaan anda, pekerja tambang disana tiap hari mempertaruhkan nyawanya

Penerbangan pagi dari Jakarta untuk meeting di Surabaya selama beberapa jam memang paling tepat dilanjutkan dengan berkelana di sekitaran Jawa Timur. Jawa Timur yang dianugerahi beberapa gunung memang menjadi surga buat para penikmat alam yang doyan menforsir otot-otot kakinya. Semeru sebagai ikon gunung-gunung di Jawa Timur memang selalu menarik namun mendaki semeru bukan seremeh yang digambarkan dalam film 5 cm. Mengingat tidak ada persiapan baik fisik maupun logistik, dari Jakarta pilihan yang dituju adalah gunung yang cukup 1 hari pendakian dan minim logistik. Gunung ijen akhirnya dipilih, selain memenuhi kriteria tadi juga ada atraksi menarik di Gunung Ijen yaitu api biru.

Mengawali perjalanan dari Stasiun Gubeng dimana perjalananan ini adalah solo trip tak ada teman perjalanan, perlu berbagai cara untuk memotivasi diri untuk tidak merasa bosan. Terima kasih kepada para pengembang gadget-gadget yang telah menciptakan alat-alat pengisi waktu di saat perjalanan dan saya masih terus kagum kepada para penjelajah jaman dahulu yang bisa berpetualang seorang diri hanya bermodal alat tulis dan kertas untuk mengisi waktu. Kereta malam yang membawa saya menuju ke Stasiun Karangasem, Banyuwangi cukup lengang jauh dari padat seperti yang tergambar pada saat mudik lebaran. Ruang lapang di dalam gerbong bisa dimanfaatkan untuk merebahkan diri melepas kepenatan. Pemerintah tak perlu memikirkan strategi dan tagline surga untuk membuat rakyat senang, fasilitas transportasi yang membuat mereka beristirahat selama perjalanan tampaknya cukup menyenangkan bagi mereka.

transportasi yang nyaman tidak mesti mewah yang penting bisa istirahat

transportasi yang nyaman tidak mesti mewah yang penting bisa istirahat

Kereta memasuki Stasiun Karangasem disaat adzan subuh berkumandang, tampak terlalu pagi untuk mencari transportasi menuju Paltuding sebagai entrance Ijen. Berjalan di pagi buta seperti ini memang menyegarkan, entah sudah berapa lama saya tidak pernah melakukan kegiatan seperti ini. Tampak wajah pedesaan mulai terpancar di tempat yang menurut GPS yang saya gunakan bernama Giri. Secanggih apapun peralatah navigasi anda tetap navigasi mulut masih digunakan, setelah mendapatkan informasi dari sana sini ternyata satu-satunya transportasi ke Paltuding adalah menggunakan ojek atau charter angkot. Namun sebelum memutuskan memilih moda transportasi yang saya mencoba alternatif lain yaitu mengacungkan jempol di sepanjang jalan menuju Paltuding yang jaraknya lebih dari 30 km dari stasiun Karangasem. Dan cara ini berhasil menghentikan sebuah mobil bak walau tidak sampai Paltuding namun cukup mengurangi 1/3 perjalanan menuju Paltuding. Mobil bak yang telah memperpendek jarak menuju Ijen itu berhenti di sebuah pasar di daerah bernama Licin, dan perjalanan dilanjutkan dengan ojek. Ojek tua yang membawa saya tidak terlalu meyakinkan untuk membawa saya dari ketinggian kurang lebih 400 mdpl menuju Paltuding yang berketinggian 1883 mdpl. Benar saja memasuki tanjakan di kawasan cagar alam Ijen motor itu mulai merangkak untung saja mobil minibus dari KSDA setempat lewat dan memberikan tumpangan untuk sampai Paltuding. Kawasan yang masih asri oleh pepohonan khas dataran tinggi mulai menghembuskan udara dingin ketika mendekati Paltuding dan saat itu pukul 8 pagi saat yang tepat untuk sarapan pagi. Sebuah warung yang dikelola oleh Bapak dan Ibu Im menjadi tempat berlabuh sebelum menanjak ke gunung Ijen. Sarapan cepat saji seperti mi instan maupun cereal instan menemani pisang goreng yang ditawarkan sebagai sarapan. Tampak beberapa turis luar negeri duduk di bangku-bangku warung melepas lelah setelah mendaki. Bu Im yang cukup akrab dengan para tamunya cukup fasih berbahasa inggris.

Menuju kawah Ijen

Menuju kawah Ijen

Rencana saya untuk melihat si api biru kawah Ijen membuat saya baru berjalan menuju gunung Ijen pada malam hari. Suhu saat itu 14 derajat Celsius bukan suhu yang bersahabat jika hanya menggunakan kaos tipis saja untuk memulai perjalanan mendaki. Satu pelajaran yang diambil dari pendakian kali ini adalah jangan anggap remeh pendakian walau satu malam saja selalu siapkan peralatan dengan baik. Pendakian malam yang dilakukan saat itu hanya diterangi headlamp yang baterenya sekarat tanpa ada cadangan. Memang jalur menuju gunung Ijen jelas dan terbuka ditambah penerangan 3/4 bulan purnama namun ketika sampai di bibir kawah untuk menuju kawah sangatlah berbahaya dengan penerangan yang minim. Menanti rombongan turis yang akan menuju kawah untuk melihat si api biru adalah pilihan yang aman. Selain mereka pasti membawa penerangan yang baik juga pasti membawa guide yang hapal dengan jalur yang benar menuju kawah. Setelah melalui jalur menurun tajam bebatuan cadas gunung Ijen, tampaklah si api biru yang menurut informasi hanya ada dua yaitu di Islandia dan di Indonesia tepatnya di Kawah Ijen. Aroma khas belerang seperti bau gas dari tabung 3 kg atau 12 kg begitu terasa mendekati areal penambangan belerang dimana semburan si api biru bermunculan. Takjub dengan pertunjukkan si api biru tak berapa lama ancaman bahaya datang.

api biru kawah Ijen

api biru kawah Ijen

Semburan asap solfatara khas gunung berapi tiba-tiba membesar ditambah hembusan angin mengarahkan asap tersebut ke arah saya yang bersama dengan beberapa orang dari rombongan turis. Masker dan google semestinya salah satu alat yang wajib dibawa ketika memasuki kawah ini. Mata perih dan tenggorakan kering efek yang terasa pertama kali saat terkena asap tersebut. Terdapat beberapa orang penambang yang sudah mulai bekerja di dini hari itu. Mulai mengumpulkan belerang untuk dibawa sepanjang lebih 3 kilometer menuju Paltuding dengan jalur naik turun dengan tingkat kesulitan tertinggi ketika naik dari kawah ke atas menuju jalur utama. Resiko terpeleset saat membawa beban 60-80 kilogram bukanlah hal sepele. Penambangan tanpa peralatan keamanan bisa memberikan risiko tinggi buat pelakunya. Risiko terhirup asap beracun, tertimpa batuan maupun terjatuh di tebing kawah menjadi risiko untuk mendapat uang 780 rupiah dari tiap kilo belerang yang sampai di Paltuding, sebuah risiko dan pendapatan yang tidak sebanding. Sementara banyak turis yang menghambat jalur perjalanan penambang ketika naik bahkan mengambil gambar ketika mereka bersusah memanggul beban seberat. Namun ada beberapa turis yang berbaik hati memberikan sesuatu baik rokok, makanan bahkan uang sebagai ucapan terima kasih karena mau menjadi  objek mereka.

Penambang Belerang

Penambang Belerang

Bagi yang saat ini merasa tidak puas dengan pekerjaan anda sekarang mulailah berpikir bahwa banyak orang yang lebih buruk kondisinya pada saat melakukan pekerjaannya dan mulailah banyak berkelana untuk melihat kehidupan orang lain yang tidak seberuntung anda kehidupannya. Tidak hanya keindahan yang ditawarkan pada saat melakukan perjalanan namun proses dalam mencapai tujuan anda akan bertemu banyak hal yang tidak terduga sebelumnya.

Di atas awan pertama kali di tahun 2013

Di atas awan pertama kali di tahun 2013

 

Kereta api non eksekutif: rakyat yang gak nuntut banyak yang penting bisa rebahan…

Kereta api merupakan moda tranpotasi darat yang memiliki daya angkut paling besar sudah digunakan sejak jaman belanda. Peninggalan stasiun klasik ala eropa masih banyak terlihat di jalur kereta yang ada di Indonesia. Kereta api dengan kemampuannya itu telah berhasil memobilisasi manusia ke berbagai tempat yang secara tidak langsung sudah memutar roda perekonomian bangsa ini.

Kereta api saat ini bukanlah pilihan yang menarik bagi para manusia yang waktunya sudah seperti argo taksi. Ongkos pesawat saat ini makin kompetitif lebih menjanjikan untuk digunakan dibanding kereta api. Namun tidak semudah itu kereta api akan ditinggalkan. Orang-orang Indonesia yang lebih baik menyimpan uangnya untuk makan keluarganya, untuk modal usaha, atau sekedar bertahan hidup masih banyak di negeri ini. Waktu bagi mereka masih bisa dinegosiasikan asalkan bisa meminimalisir pendapatan mereka yang sedikit cepat habis. Kereta api masih bisa

image

menampung mereka walau harus menempatkan mereka di kasta menengah ke bawah alias non eksekutif. Dan pada akhirnya mereka bisa berpindah tempat juga merebahkan diri untuk melepas penat di dalam kereta.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,189 other followers