Jangan Pernah Takuti Kami Untuk Datang ke Papua

20170210_122059
Kami percaya POLRI dan TNI mampu menjaga keamanan Papua demi utuhnya NKRI tapi jangan takuti kami untuk ke Papua

Sedikit berbagi tentang isue menarik selama di Papua beberapa hari lalu:
Masalah keamanan khususnya pegunungan tengah papua menjadi komoditi yang tetap dipelihara oleh oknum tertentu baik di papua maupun di jakarta untuk memberikan rasa takut kepada publik khususnya warga negara asing untuk berkunjung ke sana. Makin sedikit orang luar datang ke papua makin menambah isolasi untuk mengetahui Papua, sehingga fakta yang ada disana akan terus tertutup walau banyak pihak mencoba membantu memberikan solusi.
Untuk memberikan keamanan memasuki zona merah di Papua beberapa oknum memberikan jasa fasilitas pengamanan, apakah ini dampak tidak beroperasinya Freeport beberapa saat ini sehingga aliran dana keamanan tersendat maka oknum tersebut mencari pasar baru.

Kemiskinan menjadi alasan munculnya berbagai kelompok orang yang mengganggu keamanan disana, para oknum ini meyakini bahwa orang asing yg datang kesana meliput kemiskinan masyarakat akan mengamini munculnya gerakan separatis dan akan melakukan propaganda negatif di luar negeri terhadap Indonesia.
Disini saya tidak menyimpulkan apa pun hanya berharap Papua menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi siapa pun baik dalam dan luar negeri tanpa perlu diintimidasi dengan isu keamanan. Para aparat negara bekerja sesuai kapasitasnya memberikan jaminan keamanan baik utk masyarakat lokal maupun yg berkunjung kesana.
Papua tanah yang kaya saya pun ingin masyarakat Indonesia khususnya orang Papua bisa menikmatinya dengan bahagia tanpa ada tekanan dari pihak manapun.
Dibawah ini ada artikel bagaimana negara menjamin siapa saja bisa berkunjung ke papua

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/11/151112_luhut_papua_hrw

View on Path

Bersembunyi dibalik tebing Taman Nasional Manusela

Bagi sebagian orang yang keseharian beraktifitas di Jakarta tentu akan mengalami namanya kemacetan lalu lintas, terjebak dalam himpitan kendaraan dengan berbagai tujuan yang mereka ingin capai. Rutinitas tersebut akan terus terjadi selama kota ini masih ada, dan saya menyatakan diri untuk tidak selalu terbawa arus kehidupan urban tersebut dengan berusaha mencari berbagai kesempatan mencari surga tersembunyi di negeri ini.

Indonesia bagian Timur sebagai wilayah yang saya kagumi akan keindahan maritim serta suasana kehidupan masyarakat yang santai memang selalu dirindukan untuk kembali dikunjungi.Namun perjalanan ke Indonesia bagian Timur terkadang begitu berat selain biaya yang dikeluarkan cukup banyak juga ketersediaan waktu yang banyak terkadang sulit bagi karyawan kantoran macam saya.Kesempatan yang datang untuk bisa kesana akhirnya mampir ke whatsapp saya dan tak boleh dilewatkan kesempatan ini.

Maluku sebagai tujuan saya kali ini memberikan kesempatan melihat kepulauan-kepulauan yang ada di provinsi beribu kota di Ambon ini. Kepulauan Aru dan Kepulauan Kei menjadi tujuan utama namun saya tidak akan bercerita tentang kepulauan tersebut tapi tujuan sampingan yang sudah saya rancang sejak dari Jakarta yaitu Pulau Seram tepatnya ke pantai yang dikenal dengan Pantai Ora.

Perjalanan menuju Pantai Ora dimulai dari Ambon tepatnya dari Pelabuhan Tulehu tempat bersandarnya kapal cepat menuju Masohi sebuah kota di Pulau Seram yang menjadi pintu masuk menuju berbagai tempat di Pulau Seram. Di kota Masohi tepatnya di terminal Binaya menjadi pusat untuk mencari kendaraan ke berbagai tempat di Pulau Seram.

20161002_090657
Kapal cepat menuju Pulau Seram dari Pelabuhan Tulehu

Untuk menuju Pantai Ora ada pilihan tempat menginap yaitu di Ora Beach Resort namun pilihan ini membutuhkan biaya yang cukup banyak sehingga pilihan yang lebih murah yang dipilih yaitu menuju desa Sawai dimana disana ada beberapa tempat penginapan dengan harga lebih murah dari Ora Beach Resort. Perjalanan menuju ke desa Sawai dimulai dari kota Masohi menggunakan taksi berupa mobil minibus.Perjalanan cukup nyaman dengan jalan yang mulus dan lengang tak terlintas dalam pikiran akan ada kemacetan macam di Jakarta. Perjalanan menuju desa Sawai akan melintasi Taman Nasional Manusela yang dikenal sebagai habitat burung-burung eksotik khas Indonesia Timur seperti Kakatua, Nuri, Bayan, dan juga burung paruh besar seperti Rangkong. Menurut informasi jalan lintas Taman Nasional akan ditutup dan kendaraan akan dialihkan menggunakan kapal feri, jadi segera lah berkunjung ke desa Sawai sebelum jalan lintas Taman Nasional Manusela ini ditutup karena sensasi melintasi hutan belantara dengan kicauan burung terkadang juga beterbangan di atas jalan maupun rusa yang sedang mencari makan di pinggir jalan tak akan terlupakan.

20161002_163329
Jalan yang melintas di Taman Nasional Manusela

Desa Sawai yang bersembunyi di balik rimbunnya hutan Taman Nasional Manusela memang tempat yang cocok untuk menyepi, sinyal mobile internet yang buruk dan tidak ada hiburan selain pemandangan laut serta ikan-ikan yang lalu lalang di bawah penginapan. Saya pun memilih tinggal di Lisar Bahari Guest House yang memiliki kamar-kamar berada di atas air laut. Tempat ini dimiliki oleh seorang yang bernama Pak Ali mantan pengusaha pengambil hasil hutan yang kemudian beralih untuk menyelamatkan lingkungan kampungnya dengan bisnis ekowisata. Pak Ali sendiri merupakan sosok low profile namun sudah beberapa kali diliput oleh berbagai media baik dalam dan luar negeri. Lisar Bahari Sawai yang dibangun di atas laut yang masih jernih memberikan pemandangan bawah laut yang menyenangkan, setiap saat selalu dilalui berbagai jenis mahkluk laut sehingga tidak perlu snorkeling pun kita sudah melihatnya dari teras sambil menyesap kopi.

20161003_084956

Jika penasaran seperti apa Pantai Ora bisa memanfaatkan fasilitas tour yang dimiliki Lisar Bahari, tour ini tidak hanya menawarkan berkunjung ke Pantai Ora, namun juga berbagai spot menarik di sekitar desa Sawai. Salah satu spot yang menarik adalah Dangkalan sebuah spot snorkeling di tengah laut yang menyajikan hamparan terumbu karang yang luas dan masih sehat serta arus yang tenang dengan berbagai mahkluk laut yang hidup disana. Hamparan laut yang bersembunyi dibalik tebing Taman Nasional Manusela benar-benar penyejuk dahaga bagi para pecinta laut dengan suasana yang tenang.

20161004_140802
Ora Beach Resort 
This photo is taken by AllWinner's v3-sdv
Keramaian di spot snorkeling “Dangkalan”
This photo is taken by AllWinner's v3-sdv
Tebing-tebing pantai di sepanjang Negeri Sawai hingga Negeri Saleman

 

 

 

La petite Kepa, pulau kecil nan ciamik di barat Alor

DSC00854Maksud hati liburan kesini mau detox digital eh ternyata bts telkomsel berdiri dgn gagahnya di seberang pulau jd ttp bisa pantau timeline yg hari ini dihujami gambar2 liburan dr gambar di moda transport, makanan dan selpi2an jarang yg kasih cerita ttg apa yg didapat dari tempat yg dikunjunginya.
Skr gw nginap di la petite kepa yg dimiliki oleh cedric n anne lanchet pasangan suami istri asal perancis. Tempat ini bukan resort mewah hanya terdapat 10 bangunan sederhana dr material kayu dan bambu dgn arsitektur ala rumah tradisional alor yg mulai dibangun secara bertahap dari tahun 1999. Lokasinya yg berada pulau karang mengakibatkan tidak adanya keberadaan air tawar yg harus disupply dr pulau utama yg dampaknya para tamu harus menyadari utk pakai air tawar seperlunya saja dan selama disini tidak komplen dr para tamu yg mayoritas datang dari negara2 di eropa dan amerika yg memiliki standard higinitas tinggi.
Dari cerita yg diperoleh awal membangun tempat ini cedric n anne lanchet benar2 sampe berdarah-darah selain finansial jg medannya yg berat. Dan sejak 2010an mulai mapan didukung peralatan penunjang diving yg lengkap.
Cedric n Anne Lanchet sbnrnya sudah cukup mapan dgn pekerjaannya di prancis namun kecintaannya terhadap diving dan jiwa yg berani meninggalkan segala kenyamanan di prancis yg membawa mereka ke gersangnya pulau kepa namun dengan underwater yg luar biasa kayanya.
Namun tidak sekedar bisnis utk kepentingan mereka saja namun masyarakat disini mendapatkan cipratan roda ekonomi yg mereka berdua putar disini dan juga berbagi ilmu kepada masyarakat utk ttp menjaga lingkungan yg ada agar roda ekonomi yg sudah berputar disini tidak menjadi macet krn lingkungan yg hancur.

View on Path

2015 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 2,700 times in 2015. If it were a cable car, it would take about 45 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Maksud hati mau membuat review selama tahun 2015 tentang perjalanan yang menjadi tema blog ini, ternyata WordPress sudah memikirkannya. Hasil review bisa dilihat di link yang diberikan kalau penasaran apa aja isi blog ini di tahun 2015.

Sekedar mau menambahkan saja yang belum direview oleh WordPress tentang isi blog ini, secara pribadi tahun 2015 ada pencapaian perjalanan yang patut dibanggakan.

  1. Perjalanan ke Kinabalu, mencapai titik tertinggi yang pernah dipijak seumur hidup.
IMG-20150505-WA0004
Titik tertinggi yang bisa dicapai dengan latar dua puncak Low’s Peak dan St John’s Peak

Bersama 3 teman seperjalanan ini merupakan pendakian gunung di luar negeri bagi kita semua dan ini tidak hanya menjadi pendakian mencapai titik tertinggi yang pernah dipijak bagi kita semua tapi mungkin yang termewah. Dari kami berempat hanya satu orang yang mencapai Low’s Peak (4020mdpl) sebagai titik tertinggi di Kinabalu sedangkan sisanya hanya mencapai 3950 mdpl tapi tetap saja itu masih titik tertinggi yang pernah dipijak oleh ketiga orang yang tersisa.

2. Perjalanan ke Merauke dan Timika, menelusuri sungai hutan rawa bakau terpanjang dan terlama seumur hidup.

DSC00470
Menelusuri sungai-sungai besar di Timika dengan berbagai hal yang mengejutkan di dalamnya

Papua memang memiliki banyak daya tarik yang ditawarkan oleh alamnya yang eksotik walau untuk mencapainya bukan hal yang mudah. Memasuki aliran sungai yang selalu terbayang ikan-ikan monster seperti ditayangan liputan petualangan di Amazon sedang berenang di bawah perahu yang ditumpangi. Sempat mewanti-wanti untuk tidak terjebak dalam aliran sungai seperti ini sampai malam hari, namun yang sudah diwaspadai justru terjadi. Mengarungi sungai di malam hari dengan rimbunan hutan bakau yang dihuni buaya-buaya muara benar-benar memicu mengucurnya adrenalin dalam tubuh. Ternyata di kegelapan malam di hutan rawa bakau air sungai justru memberikan cahaya  yang memberikan pemandangan menakjubkan. Buih air yang terbentuk di jalur perahu mengeluarkan cahaya dan ini yang mampu mengalihkan pikiran menakutkan akan hutan rawan bakau yang rimbun itu.

2016 sudah siap memberikan hari-harinya untuk diisi dengan perjalanan yang baru, jadi siapkan rencananya dan kuraslah tabungan anda untuk membeli tiket murah sejak sekarang…Happy New Year 2016 para penjelajah, enjoy every inch of your journey 🙂

#TheBorder: Timika, jalur negeri Paman Sam menguras harta Papua

Papua sebagai provinsi paling Timur wilayah Indonesia dikenal memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah. Pertama kali saya menginjak tanah Papua di tahun 2011 langsung menuju pegunungan tengah Papua kenyataan ini memang ada. Lahan pertanian subur terbentang disana tanpa ada sentuhan teknologi pertanian modern dan pupuk serta pestisida kimia hasil pertanian disana merupakan produk organik dengan ukuran di atas rata-rata hasil pertanian di Pulau Jawa. Metode bertani secara organik yang belum terkontaminasi material kimia justru menghasilkan produk berkualitas.

Tidak hanya di daratan namun lautan Papua pun tidak kalah kaya. Bagi penggemar pemandangan bawah laut, siapa yang saat ini tidak kenal  Raja Ampat? Kepulauan yang berada di kepala burung pulau Papua saat ini menjadi primadona para traveler khususnya penggemar snorkeling dan diving. Sebenarnya masih ada beberapa spot underwater yang belum terjamah dikarenakan sulitnya akses kesana. Di tulisan blog ini sebelumnya yang bisa dibaca disini memang tidak selalu menjanjikan laut yang bening, di pesisir selatan hingga barat daya Papua pesisir yang memiliki air yang teramat keruh oleh lumpur hasil sedimentasi dari sungai-sungai yang bermuara ke sana yang membawa material dari Pegunungan Tengah Papua yang menjadi hulunya.

Kabupaten Mimika yang beribu kota di Timika menjadi salah satu wilayah yang menjadi aliran sungai-sungai dari pegunungan tengah Papua. Aliran air di salah satu sungainya yaitu sungai Aijkwa menjadi saluran pembuangan ampas-ampas hasil tambang oleh perusahaan tambang asal Amerika Serikat yaitu Freeport. Entah sudah berapa banyak endapan beracun yang memenuhi pesisir Mimika yang berisi hutan rawan bakau dengan berbagai macam mahkluk hidup di dalamnya sudah membangun rantai makanan, bukan tidak mungkin mereka pun sudah terpapar material beracun.

Menjelajahi sungai-sungai selebar selat menjadi hal yang biasa ketika menelusuri pesisir Selatan dan Barat Daya Papua. Dalam perjalanan untuk menginvetarisasi patok batas laut Indonesia di Pulau Papua sudah berbagai sungai besar yang dilalui, jalur sungai memang dipilih untuk menghindari jalur laut yang tidak menentu keadaannya. Selain gelombang yang laut kondisi pasang surut sering menghambat perjalanan perahu. Untuk di Kabupaten Mimika sendiri terdapat dua lokasi yang akan dikunjungi yaitu di distrik Amar dan distrik Mimika Timur.

Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Pomako yang menjadi pintu masuk untuk kapal-kapal besar yang membawa logistik untuk kebutuhan kota Timika dan pedalaman yang akan didistribusikan tidak hanya lewat jalur air namun lewat jalur udara dengan pesawat perintis yang tersedia di Bandara Mozes Kiliangin. Tidak jauh dari pelabuhan Pomako terdapat Pelabuhan Port Site yang dikhususkan untuk melayani logistik Freeport. Jika dibandingkan dengan Pelabuhan Pomako, pelabuhan Port Site memang jauh lebih baik dengan standard pelabuhan besar yang mungkin diterapkan di Amerika Serikat. Sedangkan Pelabuhan Pomako hanyalah pelabuhan perintis Pelni seperti pelabuhan perintis lainnya yang ada di berbagai tempat di Indonesia.

Menuju ke dua titik tersebut jalur sungai menjadi pilihan mengingat perahu yang digunakan hanyalah perahu dengan mesin 15 Pk bukanlah tandingan sepadan untuk melewati gelombang besar di laut. Menyusuri sungai raksasa disana dengan mesin seperti itu memang lebih nyaman walaupun lamban. Memotong alur-alur sungai seperti labirin menjadi hal yang mudah bagi orang lokal sebagai motoris yang memegang kendali perahu. Jika kami sendiri yang melakukan dijamin akan nyasar sekalipun menggunakan GPS. Belum lagi hambatan seperti dasar sungai yang dangkal mengakibatkan perahu kandas bisa menghambat perjalanan.

Kekayaan sumber daya alam berupa material tambang yang digali Freeport tidak bisa dinikmati oleh orang-orang yang ada wilayah Timika namun sungai raksasa yang bermuara ke laut lepas menyimpan harta yang bisa dinikmati siapa saja. Ikan-ikan air tawar ukuran monster, kepiting yang disana dikenal sebagai Karaka, kerang yang dikenal dengan nama Bia menjadi menu seafood yang luar biasa dimana jika bahan mentah tersebut sampai di Jakarta akan sulit dikonsumsi karena harganya dijamin bikin kantong bolong disini bisa didapat gratis dengan sedikit usaha. Jika ingin praktis bisa dibeli dengan harga jauh lebih murah dibanding harga Jakarta atau jika bertemu nelayan ditengah laut atau beristirahat di pantai bisa dibarter. Rokok, sirih pinang, mie instant bisa menjadi mata uang untuk membarter seafood tersebut.

Keindahan hutan rawa di Sungai-sungai yang ada di Timika memang menyegarkan mata namun dibaliknya kekuatan alam didalamnya siap menerkam yang berkunjung disana. Pastikan sebelum kesana buat rencana perjalanan yang matang dengan mengutamakan keselamatan di atas segalanya.

DSC00447
Pelabuhan Pomako, tempat mencari perahu yang digunakan untuk menelusuri sungai-sungai di Timika
DSC00470
Sungai raksasa yang dipecah oleh delta-delta yang rimbun membentuk labirin hutan rawa
100_1920
Di kejauhan berbagai burung laut berkumpul di muara sungai yang sedang surut
100_1918
Hutan bakau yang tumbuh subur menjadi rumah berbagai menu makanan lokal yang segar dan bergizi tinggi
Bia atau kerang menu andalan yang paling mudah diolah
Bia atau kerang menu andalan yang paling mudah diolah
Pasar ikan di Pelabuhan Pomako menyediakan hasil alam sungai di Timika
Pasar ikan di Pelabuhan Pomako menyediakan hasil alam sungai di Timika

 

#TheBorder: Lautan Papua tidak selalu yang dibayangkan

Membayangkan lautan Papua apakah yang pertama kali muncul di benak orang-orang khususnya pecinta traveling? Mungkin jika dilakukan polling bisa jadi banyak yang menyebutkan laut yang jernih bak kaca, dihuni oleh terumbu karang warna-warni yang cantik dan ikan-ikan karang yang ramai lalu lalang seperti yang terwakilkan oleh laut yang ada di sekitar Raja Ampat.

Hal itu pun juga sempat muncul di pikiran saya, namun setelah melihat citra satelit daerah pesisir Selatan Papua pikiran saya berubah.Seluruh pesisir dipenuhi oleh sedimentasi lumpur yang luas dari pantai hingga beberapa ratus meter di tengah laut memupuskan harapan untuk bisa bersnorkeling ria walau masih berharap ada sepotong pantai yang memiliki air jernih dengan terumbu karang cantik.

Pasang surut muka air laut menjadi problem untuk menjelajahi pesisir selatan Papua, pemilihan waktu untuk melakukan perjalanan menjadi tricky supaya perahu tidak kandas saat dijalankan bahkan perahu bisa terjebak jika surut sampai tersisa pasir saja.

Saat surut permukaan air laut bisa beratus meter dari pantai
Saat surut permukaan air laut bisa beratus meter dari pantai
20150906_153838
Perahu bisa terjebak pada saat surut

Menjelajahi laut pesisir Selatan Papua bisa dimulai dari beberapa lokasi di kota Merauke, saya menggunakan pelabuhan yang orang lokal sebut pelabuhan Lampu Satu tempat dimana perahu yang disewa ditambatkan disana. Pemilihan sewa perahu akan mempengaruhi juga motoris yang akan membawa perahu tersebut. Kebetulan saya mendapat referensi penyewaan perahu dari seorang anggota TNI AL yang mengenal awak perahu yang mampu dan mengerti jalur Merauke hingga ke ujung Pulau Yos Sudarso. Memang terbukti kehandalan motoris dari penyewaan perahu tersebut, dengan perahu berkuatan 2×40 PK sang motoris mengemudikan perahu dengan kecepatan tinggi dengan skill tinggi mampu menghindari tonggak-tonggak kayu yang banyak dipasang masyarakat untuk menangkap ikan dan juga bermain diantara gelombang yang menghantam menuju daratan.

Perjalanan di laut pesisir Selatan Papua mungkin menjadi kurang menarik bagi pecinta laut dikarenakan air laut yang keruh disebabkan lautnya yang dangkal serta berlumpur. Peralatan snorkeling yang sudah dibawa akhirnya sia-sia, harapan menemukan air laut yang jernih dengan terumbu karang dibawahnya tidak ditemukan sepanjang perjalanan. Tapi bagi pecandu kegiatan yang memacu adrenalin menggunakan perahu berkapasitas mesin besar dan motoris yang berjiwa pembalap jalur perjalanan pesisir Selatan Papua akan memuaskan jiwa.

Objek yang bisa dikatakan menarik di sepanjang jalur Merauke hingga Pulau Yos Sudarso terdapat Pulau Habee dimana terdapat menara suar yang bisa dinaiki untuk melihat laut dari ketinggian dan juga hutan rawa bakau yang kaya akan hasil alam selebihnya hanyalah air laut berlumpur dengan gelombang yang tidak bisa diprediksi munculnya.

Perahu berkemampuan 2×40 Pk yang dikemudikan motoris dengan skill mumpuni bisa mencapai Pulau Habee dalam waktu 3 jam. Pulau Habee menjadi salah satu lokasi patok batas laut Republik Indonesia. Pulau tak berpenghuni ini direncanakan akan dikembangkan menjadi objek wisata di Kabupaten Merauke. Pulau Habee memang tidak menawarkan pemandangan bawah laut yang ciamik namun keheningan suasana pulau yang cukup jauh dari daratan utama dan lalu lalang burung laut bisa menjadi daya tarik untuk berkunjung ke Pulau Habee.

Perahu dengan kapasitas mesin besar memberikan sensasi memicu adrenalin
Perahu dengan kapasitas mesin besar memberikan sensasi memicu adrenalin
DSC00227
Pemandangan dari Menarasuar Pulau Habee

Laut yang bergejolak oleh gelombangnya dan perahu berkecepatan tinggi dengan motoris ugal-ugal lama kelamaan menguras habis adrenalin dan berdampak pada sekujur tubuh yang remuk redam terhempas di dalam perahu, pilihan memotong jalur sungai yang tenang melintas hutan rawa bakau menjadi keputusan yang tepat. Permukaan air sungai yang teduh dan kanopi pohon dari hutan rawa bakau sedikit menahan terpaan sinar matahari yang terik. Hutan rawa bakau mendominasi lahan di pesisir selatan Papua mulai dari Merauke hingga pulau Yos Sudarso, Hutan rawa bakau yang ada begitu rimbun dengan pohon bakau yang tinggi besar layaknya hutan primer pada umumnya berbeda sekali dengan hutan rawa bakau di pesisir Jawa hingga Bali yang terlihat sengsara dibabat orang-orang yang haus kebutuhan ekonomi.

Tak hanya hutannya yang masih rimbun namun para penghuninya masih banyak menikmati tinggal di ekosistem yang ada, mulai dari yang tinggal di air seperti ikan-ikan bisa tumbuh hingga besar dengan dominasi ikan duri/sembilang, kakap putih maupun belanak menjadi andalan tangkapan nelayan disana. Aneka burung-burung laut seperti pelikan, dara laut, elang dan beberapa jenis yang tidak saya ketahui namanya menjadikan hutan rawa bakau tersebut menjadi komplek hunian yang menyenangkan bagi mereka. Rusa sebagai ikon dari Merauke tidak jarang juga menjadikan hutan rawa bakau yang ada menjadi jalur perlintasan mereka.

Memasuki jalur sungai dengan permukaan air yang tenang
Memasuki jalur sungai dengan permukaan air yang tenang
Memasuki jalur hutan rawa bakau
Memasuki jalur hutan rawa bakau
DSC00413
Hasil tangkapan yang diperoleh dari hutan rawa bakau

Dalam perjalanan ini beberapa lokasi yang menjadi persinggahan untuk beristirahat mampu memberikan kenyamanan. Bukan kenyamanan dalam fasilitas hotel maupun restoran tapi keheningan pantai dengan semburan merah matahari yang tenggelam, keramahan masyarakat lokal menyediakan rumahnya untuk dipakai menginap dan suguhan makanan lokal hasil dari alam yang ada serta pantai berpasir putih dengan langit cerah memberikan tempat untuk tidur dengan fasilitas bintang seribu yang memberikan kenyamanan yang sulit dinikmati di Ibukota Jakarta tercinta ini.

DSC00283
Heningnya pantai di desa Yowi menjelang senja
20150909_173530
Menyambut pagi di pantai Distrik Wan setelah melewati tidur malam beratapkan beribu bintang di langit
Masyarakat lokal di distrik Boraka menyisihkan ruang tidurnya dan menyiapkan makanan untuk tamunya
Masyarakat lokal di distrik Boraka menyisihkan ruang tidurnya dan menyiapkan makanan untuk tamunya

#TheBorder: Akhirnya tercapai dari ujung Barat hingga ujung Timur Indonesia

Dari sabang sampai merauke

Berjajar pulau-pulau

Sambung memnyambung menjadi satu

Itulah Indonesia

Indonesia tanah airku

Aku berjanji padamu

Menjunjung tanah airku

Tanah airku Indonesia

Lagu nasional karya R.Suharjo memang sudah dikenal sejak kecil dimana lagu ini diajarkan bagi anak-anak sejak Sekolah Dasar. Lagu yang mengenalkan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang berjajar dari Sabang hingga Merauke sebagai batas paling Barat dan paling Timur. Lagu ini juga menjadi inspirasi bagi saya untuk menjelajahi tiap wilayah negeri.

Indonesia memiliki 4 titik yang menjadi pedoman batas paling ujung dari 4 penjuru mata angin. Miangas menjadi titik paling Utara yang justru pertama kali saya singgahi pada tahun 2012, Sabang (Pulau Weh) sebagai titik paling Barat di Indonesia sudah saya singgahi pada tahun 2013. Dan di tahun 2015 tercapai juga untuk mengunjungi Merauke sebagai ujung paling Timur Indonesia sekaligus mewujudkan lirik lagu karya R.Suharjo.

Merauke sebagai Kabupaten di Provinsi Papua sejak dahulu sudah dikembangkan menjadi lumbung pangan untuk Indonesia Timur khususnya di Papua. Wilayah datar yang didominasi daerah rawa memang dikembangkan untuk wilayah pertanian. Gelombang transmigran dari Jawa sejak jaman Presiden Suharto telah banyak membuka lahan sawah dan lahan penggembalaan ternak di bumi suku Marin ini.

Berkunjung ke Merauke menjadi kurang lengkap jika belum mengunjungi patok batas yang berada di Sota. Patok yang ada di Sota merupakan titik lintang timur 141 derajat atau ujung paling Timur wilayah Indonesia. Di lokasi ini terdapat patok perbatasan hasil survey tim Indonesia dan tim Australia yang menjadi wakil dari Papua Nugini.  Lengkap sudah berdiri di Kilometer 0 Sabang di Pulau Weh dan sekarang berdiri di Patok Batas Lintang Timur 141 derajat di Sota Merauke Papua. Di sekitar lokasi patok tersebut terdapat beberapa Musamus atau sarang semut yang besar merupakan salah satu ikon yang dimiliki oleh Merauke.

Namun itu bukan akhir penjelajahan di Merauke, masih ada lokasi yang menantang di tempat ini.

Gerbang Perbatasan
Gerbang Perbatasan
Patok perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini
Patok perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini
Musamus salah satu ikon yang ada di Merauke
Musamus salah satu ikon yang ada di Merauke

Perbatasan Indonesia dan Papua Nugini di Kabupaten Merauke memiliki wilayah konservasi yang secara resmi ditetapkan sebagai Taman Nasional Wasur. Taman Nasional Wasur memiliki variasi ekosistem dari padang savannah yang berisi satwa seperti Rusa, Kangguru, Sapi Liar hingga hutan rawa bakau yang berisi buaya, burung-burung rawa, maupun berbagai jenis ikan konsumsi seperti Kakap, Belanak maupun kepiting bakau yang disana dikenal dengan nama Karaka. Bagi pecinta off road jalur di Taman Nasional Wasur cukup mumpuni untuk menguji kendaraan berpenggerak 4 roda. Saya pun berkesempatan mencoba menjelajah Taman Nasional menggunakan kendaraan 4wheel untuk menuju lokasi survey perbatasan. Jalur yang dilalui sebenarnya merupakan bagian dari  lahan basah atau Wet Land yang banyak mendominasi kawasan Taman Nasional Wasur namun berhubung musim kemarau yang berkepanjangan maka jalur yang dilalui cukup kering dan mudah dilalui dengan Toyota Hilux sebagai kendaraan 4wheel yang digunakan. Melewati padang savana yang luas dengan rumput setinggi orang dewasa menjadi habitat untuk rusa dan kangguru yang merupakan hewan ikonik dari Merauke. Memang saya tidak melihat kedua hewan ini pada siang hari, namun di malam hari sempat melintas di depan mobil seekor kangguru dan itu momen pertama bisa melihat kangguru di habitat aslinya tapi momen itu tidak bisa terekam kamera dikarenakan cepatnya kangguru itu melompat. Melalui jalur lahan basah di Taman Nasional Wasur di musim kemarau tidak berarti semua jalur kering, terdapat lokasi yang masih tergenang air dan ini menjadi ancaman bagi kendaraan yang melaluinya. Bagi kendaraan offroad yang mempersiapkan kendaraannya dengan peralatan jika terjebak lumpur mungkin bukan halangan berarti namun bagi yang merasa percaya diri melalui jebakan lumpur tersebut berharap saja akan ada orang yang bisa membantu jika pada akhirnya kendaraannya terjebak.

Jalur lahan basah yang kering di musim kemarau
Jalur lahan basah yang kering di musim kemarau
Padang savana habitat rusa dan kangguru
Padang savana habitat rusa dan kangguru
Mobil akhirnya terjebak lumpur juga
Mobil akhirnya terjebak lumpur juga

Penjelajahan di Merauke tidak hanya daratannya saja, namun perairannya seperti sungai, rawa, dan lautnya memberi cerita tersendiri…continue