Akhir pekan yang sangat panjang dimulai dari Bali (Riding Bali-NTB-NTT 3)

20170715_170013
Pelabuhan Padang Bai di Bali

Matahari pagi di hari Sabtu 15 Agustus 2017 di kawasan Legian dimana saya menginap selama di Bali begitu terik dan langit cerah seperti tanda bahwa semesta mendukung untuk memulai perjalanan panjang merayapi pulau-pulau di Sunda Kecil. Mencoba mencari informasi kabar laut di selat Lombok tampaknya cukup bersahabat untuk dilalui walau angin diperkirakan akan sedikit kencang. Packing barang pertama kali di atas motor belum menemukan komposisi yang pas  dipastikan akan terus mengalami perubahan karena packing akan dilakukan sepanjang perjalanan ini setiap kali berhenti bermalam. Barang bawaan berupa tas ransel ukuran 80 liter dibantu oleh dua sidebag motor jika ditotal mencapai berat 25 kg sebenarnya tidak lah begitu membebani motor karena itu hanya lah berat seperti membonceng anak usia balita namun dimensi tas yang panjang agak merepotkan saat mengikat di atas motor.

Meninggalkan kawasan Legian menjelang sore di akhir pekan terasa seperti di jalanan ibukota Jakarta yang selalu macet kapan saja. Bulan Juli memang menjadi puncak kunjungan wisatawan baik dari dalam dan luar negeri ke Bali, sehingga tidak aneh jika ada sebagian wisatawan asing lebih memilih wilayah lain di Indonesia untuk mendapatkan tempat berlibur yang lebih sepi. Menelusuri jalan By-pass menuju pelabuhan Padang Bai cukup nyaman dilewati, bahkan tes top speed motor ini pun bisa dilakukan di jalur lurus selepas simpang By-pass. Top speed 115 km/jam mampu diukir oleh motor ini dengan kondisi mengemudi cukup stabil walau hanya sebentar dilakukan karena alasan keamanan, paling tidak kemampuan motor ini untuk mencapai top speed cukup mengagumkan namun vibrasi mesin motor ini saat kecepatan tinggi sedikit mengganggu kenyamanan.

Setelah 2,5 jam berkendara dari Legian tibalah di Pelabuhan Padang Bai pelabuhan yang akan menyeberangkan kendaraan dan penumpang dari Pulau Bali menuju Pulau Lombok. Estimasi waktu tempuh sekitar 5 jam jika kondisi cuaca bagus sementara jika cuaca buruk bisa lebih dari 5 jam. Kapal ferry yang saya tumpangi cukup padat oleh kendaraan dan ternyata penumpang juga cukup memadati dek penumpang termasuk juga beberapa wisatawan asing. Sebenarnya ada kapal cepat yang bisa mengantarkan penumpang sampai ke Pulau Lombok dalam waktu tempuh 2-3 Jam ke beberapa tujuan di Lombok seperti Senggigi maupun Gili Trawangan namun berhubung sudah sore jam operasi kapal cepat sudah tidak ada lagi tampaknya mereka memilih untuk menggunakan kapal ferry.

Menuju Lombok menjadi penyeberangan antar pulau yang pertama kali dalam perjalanan ini, perkiraan awal saya akan menggunakan ferry sebanyak 5 kali namun dalam perjalanannya saya pun harus menggunakan 7 kali karena situasi yang memaksakan untuk merubah rencana perjalanan yang berdampak juga ke pengeluaran perjalanan. Dari perhitungan biaya yang dikeluarkan ternyata pengeluaran untuk ongkos ferry berada di peringkat kedua terbesar setelah biaya penginapan.

Sekitar tengah malam tibalah kapal ferry yang membawa saya dari Pelabuhan Padang Bai Bali di Pelabuhan Lembar di Lombok. Berhubung motor saya berada di barisan paling belakang di antara padatnya kendaraan di dalam kapal ferry maka lebih baik menunggu di dalam ruang penumpang dibanding menunggu di ruang kendaraan yang saat itu dipenuhi karbon monoksida dari kendaraan yang mulai memanaskan mesinnya. Lewat tengah malam motor saya sudah bisa keluar dari kapal ferry dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Kayangan di Lombok Timur untuk menyeberang ke Sumbawa. Keputusan untuk melanjutkan perjalanan di tengah malam setelah mendapatkan masukan dari seorang penumpang yang sering lalu lalang ke Lombok Timur di malam hari. Dia memastikan bahwa jalur dari Pelabuhan Lembar ke Pelabuhan Kayangan cukup aman dilalui pada malam hari. Sempat terbersit untuk menginap hingga menunggu fajar sebelum memulai perjalanan menuju Pelabuhan Kayangan, namun di malam Minggu yang panjang ini saya menerobos udara dingin di jalanan yang sepi sepanjang Lombok Tengah menuju Lombok Timur dan berharap tidak ada begal yang menghadang. Jalan lurus, sepi dan panjang yang mengarah ke Bandara Praya kembali memacu untuk melakukan tes top speed, kali ini rekor dipecahkan dengan Top Speed 120 km/jam yang memberikan efek tubuh menggigil walau sudah memakai 4 lapis pakaian memang udara dingin dari Australia yang sedang musim dingin terhembus hingga di pulau-pulau Sunda Kecil dan ini terasa juga saat saya di Flores dan Sumba.

Menjelang pukul 3 dinihari di hari Minggu 16 Agustus 2017 disaat banyak orang sedang terlelap, saya pun memasuki pelabuhan Kayangan di Lombok Timur, tak berapa lama menunggu saya pun sudah masuk di kapal ferry menuju Sumbawa yang saat itu cukup lengang. Penyeberangan dari Pelabuhan Kayangan di Lombok menuju Pelabuhan Pototano di Sumbawa tidak sampai 2 jam namun cukup bermanfaat untuk sekedar tidur saat mata mulai mengantuk. Tidur sudah mulai terlelap di dalam perjalanan menuju Sumbawa, namun tak terasa ternyata kapal sudah tiba di Pelabuhan Pototano. Sekedar membasuh muka untuk menghilangkan kantuk cukup bisa kembali tersadar untuk mengemudi dan dihantam udara dingin kembali. Fajar pertama di pulau Sumbawa begitu cantik dengan semburan warna merah di langit, namun tidak secantik awal perjalanan di pulau Sumbawa baru satu jam saja motor berjalan di Pulau Sumbawa tiba-tiba saja mati dan posisinya jauh dari pemukiman. Damn, akhir pekan yang panjang ini belum berakhir di Pulau Sumbawa…

Advertisements

Mencari motor yang berjodoh  (Riding Bali-NTB-NTT 2)

 Melakukan perjalanan jauh menggunakan motor seorang diri membutuhkan sebuah motor yang tangguh dengan mesin mumpuni, postur motor yang nyaman untuk dikemudikan, dan surat kendaraan yang masih berlaku. Bila menggunakan motor yang sudah dimiliki sejak lama dan juga biasa digunakan sehari-hari itu tidak menjadi masalah karena akan lebih mengenal karakter dan penyakit dari motor itu. Untuk motor yang baru pertama kali dikendarai untuk perjalanan jauh sedikit riskan karena kurang memahami karakter dari motor itu dan tidak mengetahui penyakit yang dimiliki oleh motor itu.

Pemilihan motor untuk perjalanan menyusuri di gugusan pulau di Sunda Kecil dimulai sejak di Jakarta dengan mengaudisi berbagai jenis motor dengan mempertimbangkan harga motor, spesifikasi motor, dan tahun keluarnya motor melalui internet. Semua motor yang diaudisi berada di Bali karena perjalanan akan dimulai dari Bali. Kubikasi mesin motor minimum 150cc dan kapasitas tangki bensin minimum 6 liter menjadi harga mati untuk spesifikasi motor, sehingga dalam pemilihan motor sempat terdapat motor matik Yamaha Nmax masuk dalam list bersaing dengan motor manual lainnya.

Setelah memiliki data yang cukup tentang motor yang dicari maka berangkatlah saya ke Bali untuk menemukan keberadaan motor-motor tersebut. Menemui beberapa pemilik motor, menanyakan berbagai hal tentang kondisi motor yang ada, bernegosiasi harga dan pada akhirnya Yamaha Scorpio tahun 2011 terpilih untuk menjadi tunggangan saya merayapi pulau-pulau di Sunda Kecil. Motor berkubikasi mesin 225cc telah mengalami banyak modifikasi jika dihitung modal modifikasinya mungkin bisa diatas Sepuluh Juta Rupiah. Perubahan kaki-kaki motor merupakan perubahan signifikan pada motor ini justru sangat menguntungkan untuk perjalanan ini. Penggunakan peredam kejut roda depan lebih tinggi daripada standard, arm roda belakang yang besar untuk menopang ban bertapak lebar memberikan kestabilan berkendara di kecepatan tinggi dan juga bisa melewati jalan-jalan berlubang dengan mudah. Penggunaan exhaust Racing R9 memberikan semburan tenaga besar untuk memutar ban besar yang dimiliki motor ini namun untuk penggunaan bahan bakar masih cukup bersahabat.

Motor tunggangan sudah dapat, beberapa aksesoris tambahan untuk menopang barang bawaan akhirnya terpasang…now, I’m ready to go. Bersiap menempuh ribuan kilometer jalan aspal, menyeberangi laut untuk mencapai pulau-pulau yang ada, dan bersiap bercengkerama dengan berbagai anak bangsa yang ada di sepanjang perjalanan, just pray and wish God be with me…

PS: thanks Bli Pande (www.pandebaik.com) untuk transaksi motornya, barangnya kualitas juara…

Scorpio PanDe Baik

Diatas motor merayapi pulau-pulau di Sunda Kecil (Riding Bali-NTB-NTT 1)

20170722_111910

Bagi sebagian orang mengendarai sepeda motor untuk melakukan perjalanan jauh bukanlah pilihan yang menyenangkan, mengarungi perjalanan panjang dengan terpaan matahari yang panas, debu yang beterbangan dan angin dingin langsung menghantam tubuh kita. Untuk yang memiliki kondisi fisik tidak fit ini sama saja mengantarkan badan menuju rumah sakit. Belum lagi ancaman risiko kecelakaan akan lebih tinggi dibanding kendaraan roda empat atau lebih walau dalam kecepatan yang sama.

Namun ada sebagian kecil orang yang begitu mencintai menunggang sepeda motor untuk perjalanan jauh yang hitungannya bukan antar kota antar propinsi tapi bisa antar pulau antar negara. Separuh hari dalam sehari berada diatas motor menyusuri aspal hitam yang siap mematahkan tulang maupun memecahkan kepala bukanlah perkara bagi mereka. Teriknya matahari, dinginnya terpaan angin, bahkan asap dan debu yang siap merusak paru-paru hanyalah hambatan kecil bagi mereka. Menikmati deru mesin dan knalpot, menari diberbagai bentuk tikungan, dan merasakan kebebasan sambil memandang sekeliling yang ada di jalanan itulah yang dicari.

Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor, dan Alor merupakan hamparan pulau di gugusan pulau Sunda Kecil. Gugusan pulau Sunda Kecil merupakan pulau-pulau yang berada di sebelah Timur dari Pulau Jawa dimana pada awal kemerdekaan pulau-pulau tersebut tergabung dalam Propinsi Sunda Kecil dan sekarang terpecah menjadi tiga propinsi yaitu Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Sebenarnya ada pulau-pulau lain seperti Pulau Wetar, Pulau Kisar, Pulau Leti yang masuk dalam Propinsi Maluku yang beribukota di Ambon berada jauh di Utara

Bali dan Lombok bukan pulau asing bagi orang Indonesia atau bahkan dunia terutama Bali sebagai magnet pariwisata di Indonesia menjadi pulau penyumbang devisa terbesar dari industri pariwisata. Lombok sebagai “Bali baru” terus bangkit menyumbang devisa bagi Indonesia dari industri pariwisata.

Flobamora (Flores, Sumba, Timor, Alor) yang berada dalam propinsi Nusa Tenggara Timur saat ini sedang menggeliat untuk menampilkan dirinya bahwa empat pulau ini tidak kalah menarik untuk dikunjungi. Kekuatan utama dari kekayaan alam yang dimiliki saat ini masih menjadi andalan untuk ditampilkan. Para pelancong mancanegara pun mulai ramai mengunjungi pulau-pulau tersebut dimana sebagian dari mereka mulai jenuh dengan keriuhan Bali yang seperti pabrik dari industri pariwisata yang terus memproduksi produk untuk daya tarik wisata. Para pelancong tersebut ingin menemukan dunia baru yang belum terlalu sesak oleh turis walau harus siap menerima sarana dan prasarana yang masih minim.

Pengalaman mengendarai sepeda motor di tempat baru pasti akan memberikan sensasi yang tak terlupakan, gugusan pulau di Sunda Kecil seperti memanggil untuk diarungi menggunakan sepeda motor. Variasi medan jalan yang beragam, sarana dan prasarana pendukung berlalu lintas yang masih minim informasi menambah rasa penasaran untuk menuju kesana. Dan pada akhirnya niat kuat untuk mewujudkan keinginan berada di atas motor merayapi pulau-pulau di Sunda Kecil bisa terlaksana, dan seperti apa kisahnya akan diceritakan di postingan selanjutnya.

Masuk ke ruang waktu zaman kolonial di Banda Naira

Jakarta malam itu 2 hari setelah hari pemilihan gubernur DKI Jakarta, semangat membuncah untuk meninggalkan kota metropolutan ini yang hiruk pikuk orang yang tak hanya sibuk memperebutkan berbagai hal duniawi juga mengklaim lapak di surga. Perjalanan ke Indonesia Timur khususnya ke pulau-pulau dengan pemandangan ciamik dan kehidupan bawah laut berwarna warni dengan penghuninya yang ceria hilir mudik bagi saya itu sudah seperti di surga apalagi terselip diantaranya para wanita muda solo traveller dari berbagai bangsa di dunia yang berjemur di pantai makin lengkap surga dengan bidadarinya :)…

Ambon sebagai hub menuju berbagai pulau yang ada di provinsi Maluku menjadi tujuan awal malam itu sebelum melanjutkan ke tujuan utama yaitu Kepulauan Banda Naira. Kepulauan Banda Naira pada abad 15 merupakan daerah perebutan negara-negara  eropa untuk menguasai komoditi nomor wahid pada masa itu yaitu PALA! Portugis, Belanda dan Inggris menjadi negara Eropa yang saling bersitegang untuk memperebutkan kepulauan ini, bahkan diantara pertikaian tersebut dua negara yaitu Belanda dan Inggris dengan arogannya menukar wilayah jajahannya di Amerika Serikat dengan salah satu pulau di Kepulauan Banda Naira tanpa permisi kepada pemilik sesungguhnya.

Setelah menempuh penerbangan Jakarta-Ambon 3 jam lebih dan perjalanan laut dengan kapal cepat selama lebih dari 5 jam dari Ambon menuju kepulauan Banda Naira sampailah di perairan pulau Naira sebagai tempat berlabuhnya kapal cepat tersebut. Aura zaman kolonial masih tergambar saat melihat Hotel Maulana dengan arsitektur kolonial yang berada persis disamping pelabuhan Banda Naira ditambah lagi bangunan tua lainnya yang ada di sekitar pelabuhan. Menjelajahi Pulau Naira tidak membutuhkan waktu yang lama cukup berjalan kaki 3 jam mungkin sudah bisa menelusuri jalan utama di pulau ini yang sudah beraspal, namun akan membutuhkan waktu lebih lama jika berhenti di objek bangunan bersejarah yang banyak bertebaran di Pulau Naira mulai dari benteng, rumah tua yang pernah dihuni para pahlawan bangsa ini, gereja dan bangunan lainnya.

Pemandangan Pulau Gunung Api dari Hotel Maulana di Pulau Naira
Pemandangan Pulau Gunung Api dari Benteng Belgica di Pulau Naira
Suasana di dalam Benteng Belgica di Pulau Naira
Parigi Rante sebagai tugu peringatan pembantaian putra-putra Banda Naira yang menentang monopoli perdagangan Pala oleh VOC
Benteng Nassau di Pulau Naira
Rumah peninggalan pejabat VOC di Pulau Naira
Jalan utama untuk mengelilingi Pulau Naira
Gereja Tua Naira di Pulau Naira

 

Bagi yang kurang tertarik dengan peninggalan sejarah yang ada, kepulauan Banda Naira tidak hanya memiliki peninggalan bersejarah namun kekayaan yang tidak ternilai harga lainnya yang dimiliki di tempat ini adalah pemandangan bawah lautnya. Kepulauan Banda Naira yang memiliki 7 pulau utama yaitu Pulau Naira, Pulau Banda Besar, Pulau Gunung Api, Pulau Rhun, Pulau Ay, Pulau Pisang, dan Pulau Hatta dikelilingi perairan yang jernih dengan penghuni laut yang melimpah ruah. Bagi penggemar olahraga  memancing maupun yang ingin menikmati pemandangan bawah laut dengan snorkeling dan diving Kepulauan Banda Naira adalah surga. Berhubung kesulitan transportasi disana dan terbatasnya waktu saya hanya bisa menikmati keindahan bawah laut Pulau Hatta berdasarkan rekomendasi orang lokal. Ternyata rekomendasi yang diberikan tidak salah, Pulau Hatta memang luar biasa malah bisa dikatakan snorkeling disini rasanya berada di kedalaman laut yang bisa dilakukan dengan diving. Ikan-ikan besar yang biasanya kelihatan ketika diving bisa terlihat saat snorkeling, hal ini disebabkan perairan dangkal yang tidak terlalu luas langsung berhadapan dengan palung laut yang memang dikenal di perairan Banda Naira. Untuk para diver yang ingin memcoba peruntungan melihat ikan Hiu Martil (Hammerhead Shark) di Kepulauan Banda Naira memang habitatnya di sekitar Pulau Ay namun dari kesaksian diver yg mencoba di Pulau Hatta mereka menyaksikan Hamskie (panggilan sayang Hiu Martil) berkeliaran di perairan Pulau Hatta.

Perahu yang disediakan oleh pemilik Guest House (Pak Sofyan) di Pulau Hatta untuk menjemput tamu dari Pulau Naira.
Bawah laut Pulau Hatta
Ikan-ikan besar yang naik ke perairan dangkal dari kedalaman laut yang gelap
Keramaian ikan-ikan di terumbu karang Pulau Hatta
Penyu yang sering lihat di perairan sekitar Pulau Hatta
Pemukiman di Pulau Hatta

Jangan Pernah Takuti Kami Untuk Datang ke Papua

20170210_122059
Kami percaya POLRI dan TNI mampu menjaga keamanan Papua demi utuhnya NKRI tapi jangan takuti kami untuk ke Papua

Sedikit berbagi tentang isue menarik selama di Papua beberapa hari lalu:
Masalah keamanan khususnya pegunungan tengah papua menjadi komoditi yang tetap dipelihara oleh oknum tertentu baik di papua maupun di jakarta untuk memberikan rasa takut kepada publik khususnya warga negara asing untuk berkunjung ke sana. Makin sedikit orang luar datang ke papua makin menambah isolasi untuk mengetahui Papua, sehingga fakta yang ada disana akan terus tertutup walau banyak pihak mencoba membantu memberikan solusi.
Untuk memberikan keamanan memasuki zona merah di Papua beberapa oknum memberikan jasa fasilitas pengamanan, apakah ini dampak tidak beroperasinya Freeport beberapa saat ini sehingga aliran dana keamanan tersendat maka oknum tersebut mencari pasar baru.

Kemiskinan menjadi alasan munculnya berbagai kelompok orang yang mengganggu keamanan disana, para oknum ini meyakini bahwa orang asing yg datang kesana meliput kemiskinan masyarakat akan mengamini munculnya gerakan separatis dan akan melakukan propaganda negatif di luar negeri terhadap Indonesia.
Disini saya tidak menyimpulkan apa pun hanya berharap Papua menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi siapa pun baik dalam dan luar negeri tanpa perlu diintimidasi dengan isu keamanan. Para aparat negara bekerja sesuai kapasitasnya memberikan jaminan keamanan baik utk masyarakat lokal maupun yg berkunjung kesana.
Papua tanah yang kaya saya pun ingin masyarakat Indonesia khususnya orang Papua bisa menikmatinya dengan bahagia tanpa ada tekanan dari pihak manapun.
Dibawah ini ada artikel bagaimana negara menjamin siapa saja bisa berkunjung ke papua

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/11/151112_luhut_papua_hrw

View on Path