The Last Summit Attack: Kinabalu

Setelah sekian lama tidak melakukan perjalanan monumental yang mampu memberikan pengalaman yang terekam abadi sejak tahun 2014 akhirnya pertengahan 2015 datanglah kesempatan untuk melakukannya lagi. Bersama 3 orang teman yang 2 orang diantaranya baru bertatap muka di Kota Kinabalu dimana tempat kami akan memulai perjalanan.

Sejak mulai rencana perjalanan ini saya sudah menggadang-gadang tempat ini dengan #roadto4095 mdpl sebagai tempat tertinggi yang pernah dipijak. Pendakian Gunung Kinabalu memang berbeda dengan pendakian gunung di Indonesia, walaupun Gunung Kinabalu merupakan gunung tertinggi dibanding gunung-gunung lain yang pernah didaki namun persiapan pendakian kali ini adalah yang paling minim. Ya, ini berkat manajemen wisata Gunung Kinabalu yang rapi dan ketat menyebabkan para pendaki melupakan masalah manajemen perjalanan pendakian semua sudah diatur baik mulai dari logistik, akomodasi dan guide. Ujung-ujungnya untuk mendaki disini menjadi pendakian termahal yang pernah saya lakukan. Namun untuk berpetualang di alam bebas sebanyak apapun uang yang dimiliki, persiapan fisik juga dibutuhkan untuk memberikan kenyamanan tersendiri.

Memasuki gerbang pendakian pemandangan yang tidak biasa terlihat disana. Untuk ukuran pendakian dengan tinggi gunung melebihi ketinggian gunung-gunung di Indonesia tidak termasuk yang di Papua, saya berpikir pendaki yang ada akan didominasi pendaki muda yang secara fisik mampu melibas tanjakan-tanjakan kejam. Ternyata pendaki yang ada terlihat  orang-orang berumur di atas 40 tahun baik laki-laki maupun perempuan dari berbagai negara. Jika keadaan ini menunjukkan sebagai gambaran kualitas kesehatan penduduk, tampaknya negara Jepang, Eropa bahkan Malaysia memiliki kualitas kesehatan yang bagus dimana orang-orang sudah berumur pun masih sanggup untuk melakukan aktivitas fisik yang ekstrem.

WP_20150504_006
Timpohon Gate, pintu masuk sebelum memulai pendakian

Jalur pendakian Gunung Kinabalu cukup jelas bahkan untuk orang awam sekalipun namun kewajiban para pendaki harus didampingi oleh guide yang justru menambah mahalnya pendakian disini. Jalur pendakian yang didominasi tangga baik tangga yang terbuat dari kayu maupun tangga berupa undakan yang sudah dibuat sedemikian rupa untuk mudah ditapaki. Namun jalur seperti ini bisa menjadi masalah bagi kaki terutama pada saat turun. Bisa dikatakan siapkan saja uang yang banyak dan fisik yang bagus  maka anda tidak perlu khawatir untuk nyasar atau kehabisan logistik. Sejak memulai perjalanan dari Timpohon Gate di 1800an mdpl hingga ke Laban Rata di 3272 mdpl sebagai perhentian sementara sebelum menuju puncak, tanjakan tak akan kasih ampun kaki-kaki yang melewatinya. Laban Rata yang memiliki ketinggian setara puncak Pangrango menyediakan beberapa bangunan untuk ditinggali dengan fasilitas makanan buffet berkualitas dan kasur yang dilengkapi selimut baik dengan heater maupun tidak menjadi fasilitas mewah dalam pendakian ini.

Tangga-tangga yang memudahkan untuk melangkah
Tangga-tangga yang memudahkan untuk melangkah

Jalur yang ada menuju Laban Rata sudah “dikemas” untuk mudah ditapaki, dibanding dengan gunung-gunung di Indonesia bisa dikatakan jalur di Kinabalu sudah memanjakan pendaki yang melaluinya. Namun gunung tetaplah gunung jalur menuju ke atas tetaplah ke atas, tanpa persiapan fisik yang baik pada akhirnya akan menyiksa anda habis-habisan. Kondisi fisik ketika tiba di Laban Rata benar-benar drop ditambah terguyur hujan selama beberapa jam, tapi ini belum akhir dari perjalanan. Suguhan buffet di Laban Rata berprotein tinggi mulai dari olahan daging kambing, sapi dan ayam yang mampu merecovery kondisi mulai meningkatkan mood untuk menggapai puncak dini hari nanti.

Laban Rata, pemberhentian sebelum puncak (travellie.com)

 Summit Attack!!! sebenarnya ini momok bagi saya buat menuju puncak suatu gunung, biasanya dilakukan dini hari disaat suhu udara berada di titik terendah ditambah dengan angin yang berhembus kencang dan tidur yang kurang nyaman karena berhimpitan di tenda bersama teman pendakian dan juga barang lainnya. Namun summit attack kali ini terasa lain, bangun tidur cukup nyaman dari kasur dengan menggunakan selimut menyiapkan minuman panas cukup menuangkan saja dari dispenser sebenarnya bukan menjadi alasan untuk tidak bertenaga dalam memulai tanjakan dini hari itu.

Tapi bayangan ideal itu dibantahkan kembali oleh tanjakan-tanjakan setelah Laban Ratan menuju puncak, tidak sampai 1 jam berjalan fisik langsung drop dengan cepat. Bagi saya sebenarnya jalur Summit Attack di Gunung Kinabalu tidak sesusah dibanding gunung Semeru atau gunung Rinjani, kembali saya memaki diri sendiri yang kurang latihan fisik dan menganggap remeh pendakian ini. Target puncak yang dituju adalah Low’s Peak di ketinggian 4095 mdpl, namun apa daya titik 3915 mdpl yang ditampilkan GPS adalah titik tertinggi yang bisa digapai. Peraturan pendakian yang membebankan para pendaki ikut mendukung untuk tidak mencapai Low’s Peak, yang memutuskan saya untuk berhenti melanjutkan menuju puncak dan inilah titik tertinggi di bumi yang pernah dipijak sepanjang hidup saya sampai saat ini. Di titik ini sebenarnya dikelilingi beberapa
puncak selain Low’s Peak seperti South’s Peak, St John’s Peak, dan Donkey’s Peak.

Hanya bisa sampai disini :(
Hanya bisa sampai disini 😦
WP_20150505_014
South’s Peak
Titik tertinggi yang bisa dicapai dengan latar dua puncak Low's Peak dan St John's Peak
Titik tertinggi yang bisa dicapai dengan latar dua puncak Low’s Peak dan St John’s Peak

Pendakian belum lah berakhir sampai bisa kembali ke pintu entrance dengan selamat, masih butuh waktu dan kondisi fisik yang mumpuni dalam perjalanan turun. Dampak summit attack dini hari ditambah perjalanan menanjak di hari pertama ternyata berakumulasi negatif terhadap kondisi fisik. Lutut kiri yang sebelumnya sudah pernah terkena cedera akhirnya kambuh lagi di 4 kilometer terakhir menuju pintu entrance. 4 kilometer turun menuju pintu entrance jika kondisi sehat sebenarnya cukup nyaman untuk dilalui terasa menyiksa tapi ini pelajaran dari setiap pendakian gunung dan hanya kesabaran serta kepasrahan yang tetap perlu dijaga untuk melaluinya.

Dalam pendakian gunung proses perjalanan akan selalu memberi pelajaran dan menggapai puncak menjadi bonus pencapaian yang patut dibanggakan. Tiap orang yang mendaki gunung akan bisa mengenal lagi dirinya lebih dalam, dari perjalanan ini saya makin mengenal kondisi fisik diri sendiri yang tidak kompetitif lagi menggapai puncak jika ikut pendakian lagi cukuplah menikmati perjalanannya saja oleh karena itu maka dengan ini saya nyatakan bahwa KINABALU: My Last Summit Attack!!!

Advertisements

3 thoughts on “The Last Summit Attack: Kinabalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s